Sains dan Penelitian

semua pengalaman yang didapat akan diceritakan dan di tambah dengan seni seni yang indah

Hadi Addaha

Rabu, 05 Maret 2014

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kata Reptilia berasal dari kata reptum yang berarti melata. Reptilia merupakan kelompok hewan darat pertama yang sepanjang hidupnya bernafas dengan peru-paru. Ciri umum kelas ini yang membedakan dengan Kelas yang lain adalah seluruh tubuhnya tertutup oleh kulit kering atau sisik. Kulit ini menutupi seluruh permukaan tubuhnya dan pada beberapa anggota ordo atau sub-ordo tertentu dapat mengelupas atau melakukan pergantian kulit baik secara total yaitu pada anggota Sub-ordo Ophidia dan pengelupasan sebagian pada anggota Sub-ordo Lacertilia. Sedangkan pada Ordo Chelonia dan Crocodilia sisiknya hampir tidak pernah mengalami pergantian atau pengelupasan. Kulit pada reptil memiliki sedikit sekali kelenjar kulit (Zug, 1993). Reptilia termasuk dalam vertebrata yang pada umumnya tetrapoda, akan tetapi pada beberapa diantaranya tungkainya mengalami reduksi atau hilang sama sekali seperti pada serpentes dan sebagian lacertilia. Reptilia yang tidak mengalami reduksi tungkai umumnya memiliki 5 jari atau pentadactylus dan setiap jarinya bercakar. Rangkanya pada reptilia mengalami osifikasi sempurna dan bernafas dengan paru-paru (Zug, 1993). Semua Reptil bernafas dengan paru-paru. Jantung pada reptil memiliki 4 lobi, 2 atrium dan 2 ventrikel. Pada beberapa reptil sekat antara ventrikel kanan dan ventrikel kiri tidak sempurna sehingga darah kotor dan darah bersih masih bisa bercampur. Reptil merupakan hewan berdarah dingin yaitu suhu tubuhnya bergantung pada suhu lingkungan atau poikiloterm. Untuk mengatur suhu tubuhnya, reptil melakukan mekanisme basking yaitu berjemur di bawah sinarmatahari. Saluran ekskresi Kelas Reptilia berakhir pada kloaka. Ada dua tipe kloaka yang spesifik untuk ordo-ordo reptilia. Kloaka dengan celah melintang terdapat pada Ordo Squamata yaitu Sub-ordo Lacertilia dan Sub-ordo Ophidia. Kloaka dengan celah membujur yaitu terdapat pada Ordo Chelonia dan Ordo Crocodilia. (Zug, 1993). Reptil mempunyai ciri : Tubuh dibungkus oleh lapisan yang menanduk (tidak licin) biasanya dengan karapace atau sisik, Mempunyai dua pasang anggota gerak yang masing-masing lima jari dengan kuku-kuku yang cocok untuk berlari, Mencengkeram dan naik pohon, skeleton Mengalami penulangan secara sempurna, Tempurung kepala mempunyai satu concylus occipitalis, jantung tidak sempurna, terdiri atas empat ruang, dua auricula dan dua ventrikulus, pernapasan selalu dengan paru-paru, pada penyu bernapas juga dengan kloaka, mempunyai dua belas nevricranialis, sushu tubuh tergantung pada lingkungan (poikiloterm), fertilisasiinternal, segmental secara meroblastik, Mempunyai memnran embrionic (amnion, chorion, yolk sace dan alntois). Anak-anak lahir mirip dengan dewasa, tidak ada metamorfosis ( Jasnin, 1992). Reptilia merupakan kelompok hewan yang hidupnya merayap atau merangkak di dalam habitatnya. Reptil juga tergolong ke dalam hewan yang berdarah dingin. Beda reptil dengan amphibi adalah melakukan perbiakan di darat. Tubuh reptil ditutupi oleh sisik-sisik atau plot-plot dari bahan tanduk (horny scales or plates) (Djuhanda, 1982). Reptilia merupakan pemangsa serangga (insektor). Giginya runcing, sering muncul kelenjar racun. Alat gerak reptilia berupa kaki. Pada ular, kaki sudah hilang. Alat tubuh yang tidak tumbuh atau menjadi mengecil disebut rudimeter. Ada juga kaki yang berupa sirip untuk berenang (Djuhanda, 1982). Reptilia tubuhnya tertutup dengan sisik tanduk, kecuali ular, kebanyakan reptilia mempunyai cakar dan rusuk-rusuk yang digunakan untuk menyedot udara ke dalam paru-paru. Columna vertebralis yang melekat pada gelang pinggul lebih kokoh daripada nenek moyangnya yang berupa amphibia. Padanya ada bagian-bagian dari jantung dan pembuluh darah yang bertalian merupakan struktur tunggal yang khas untuk kelas ini, tidak memberikan kepastian yang cukup untuk membedakan vertebrata lainnya (Iskandar, 2000). Karena jenis reptilia ini banyak dan memiliki ciri khas masing-masing individunya maka dilakukanlah pratikum ini agar dpat mengidentifikasinya. Selain itu kita juga bisa membedakan antara jenis yang satu dengan yang lainnya. 1.2 Tujuan Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengidentifikasi, mengenal, dan mengetahui karakteristik morfologi dari beberapa apa jenis reptilia dan membuat kunci determinasinya. 1.3 Tinjauan Pustaka Reptilia menunjukkan kemajuan dibandingkan amphibia. Hal ini ditunjukkan dengan mempunyai penutup tubuh yng kering dan dan berupa sisik yang merupakan penyesuaian hidup menjauh air, Extremitas cocok untuk gerak cepat, adanya kecendrungan ke arah pemisahan darah yang beroksigen dalam jantung, sempurnanya proses penulangan, telur sesuai sekali untuk pertumbuhan dara, mempunyai membran dn cangkang guna untuk melindungi embrio. Bentuk luar tubuh reptilia bermacam-macam yaitu ada yang bulat pipih( kadal, buaya), umumnya tubuh dapat terbagi atas cephal, cervix, truncus dan caudal (Jasin,1992). Reptilia, berbeda dengan amphibia yang tidak bersisik, seluruh reptilia merupakan hewan bersisik dan telurnya mempunyai cangkang kapur (calcareous). Selain mempunyai kuning telur, embrio reptilia mempunyai membran ekstra embrional seperti pada burung dan mammalia. Reptilia terdapat lebih dari 8.000 jenis di dunia, terbagi atas 4 bangsa, dan 3 anak bangsa sebagai berikut: Chelonii (Testudines); kura-kura, penyu ± 238 jenis, Rhynchocephalia; tuatara ± 2 jenis, Squamata dibagi menjadi 3 anak bangsa; Amphisbaenia, kadal cacing (worn lizard) ± 168 jenis, Sauria (Lacertilia), kadal ± 4.700 jenis, Serpentes (Ophidia), ular ± 2.900 jenis, Crocodylia, Aligator dan buaya ± 22 jenis (Mattison, 2005). Pada umunya reptilia merupakan hewan yang bersifat ovipar. Keturunanya tumbuh didalam kulit telur. Ada yang perlu dierami dan ada yang tidak. Namun jenis ular laut memiliki sifat vivipar. Keturunannya langsung keluar berupa anak ular (Yatim, 1985). Ciri-ciri khusus dari hewan reptil yaitu tubuh dibungkus oleh kulit kering yang menanduk (tidak licin), biasanya dengan sisik atau brcarapace, beberapa ada yang memiliki kelenjar dipermukaan kulit, mempunyi dua pasang anggota extrimitas yang masing-masingnya memiliki lima jari dengan kuku-kuku yang cocok untuk berlari, mencengkram dan naik pohon. Pada yang masih hidup di air, kakinya menyerupai bentuk dayung, bahkan pada ular, tidak memiliki kaki sama sekali. Skeletonnya mengalami penulangan secara sempurna, tempurung kepala mempunyai satu condylus occipitalis, jantung tidak sempurna, terdiri atas empat ruangan yaitu dua atrium dan satu ventriculus. Terdapat sepasang archus aorticus, ber-erytrosit dengan bentuk oval biconvex dan dengan nucleus, pernafasan selalu dengan paru-paru. Pada penyu, bernafas juga dengan kloaka. Memiliki dua belas nevri cranialis, suhu tubuh tergantung pada lingkungan, fertilisasi terjadi didalam tubuh, biasanya mempunyai alat kopulasi telur besar dengan banyak yolk berselaput kulit lunak, telur biasanya diletakkan pada suatu tempat, dibiarkan menetas sendiri, tapi pada beberapa jenis seperti kadal dan ular dierai oleh betina sampai menetas, segmentasi secara meroblastis, mempunyai membran embryonic, anak yang lahir selalu mirip dengan dewasa, tidak ada terjadi metamorfosis (Pope, 1956). Skeleton axial dari reptile terdiri dari tempurung kepala dan vertebrae. Tempurung kepala ada yang bermoncong panjang merupakan tulang yang keras pada hewan yang dewasa. Rahang bawah yang panjang bersendi pada tulang kuadrat yang telah bersatu dengan tulang cranium. Bagian ventral dari cranium merupakan pelat yang keras (Weber, 1915). Squamata dibedakan menjadi 3 sub ordo yaitu Subordo Lacertilia atau Sauria, Subordo Serpentes atau Ophidia dan Subordo Amphisbaenia. Adapun ciri-ciri umum anggota ordo Squamata antara lain tubuhnya ditutupi oleh sisik yang terbuat dari bahan tanduk. Sisik ini mengalami pergantian secara periodik yang disebut molting. Sebelum mengelupas, stratum germinativum membentuk lapisan kultikula baru di bawah lapisan yang lama. Pada Subordo Ophidia, kulit atau sisiknya terkelupas secara keseluruhan, sedangkan pada Subordo Lacertilia, sisiknya terkelupas sebagian. Bentuk dan susunan sisik-sisik ini penting sekali sebagai dasar klasifikasi karena polanya cenderung tetap. Pada ular sisik ventral melebar ke arah transversal, sedangkan pada tokek sisik mereduksi menjadi tonjolan atau tuberkulum (Rodrigues, 2003). Indonesia memiliki sekitar 39 jenis kura-kura yang terdiri dari enam jenis penyu, enam jenis labi-labi, dua jenis kura-kura darat dan 25 jenis kura-kura air tawar (Riyanto dan Mumpuni, 2003). Salah satu jenis kura-kura air tawar yang merupakan endemik Indonesia adalah Chelodina mccordi atau kura-kura Rote yang penyebarannya hanya terdapat di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Keberadaan kura-kura di Pulau Rote telah diketahui sejak lama. Namun keberadaan kura-kura ini sebagai spesies baru ini baru dipublikasikan pada tahun 1994 oleh Anders G. J. Rhodin. Sebelumnya diperkirakan bahwa kura-kura ini adalah jenis C. novaeguinee yang penyebarannya terdapat di Papua dan Australia bagian utara (Rhodin, 1994). Kura-kura (ordo Testudines) adalah satwa purba yang telah berevolusi menjadi bentuk bercangkang sejak 200 juta tahun yang lalu. Kura-kura bersama dengan kadal, amfisbaenia, ular ( Ordo Squamata), buaya (Ordo Crocodilia) dan Tuatara (Ordo Rynchocephalia), merupakan anggota kelas reptilia. Ordo Testudines adalah satu-satunya anggota sub klas anapsida yang masih ada (Ernst & Barbour 1989). Kura-kura dapat dibagi dalam 2 sub ordo, yaitu sub ordo Cryptodira (dapat memasukkan kepala ke arah cangkangnya) serta sub ordo Pleurodira (kepala dan lehernya dapat dibelokkan ke samping). Secara umum, kura-kura dapat dibedakan atas 4 kelompok, yaitu penyu (Sea turtle) yang hidup di laut, kura-kura darat bercangkang keras dan tinggi atau baning (tortoise), kura-kura air tawar bercangkang keras (terrapin) serta kura-kura air tawar bercangkang lunak (softshell turtle) (Iskandar 2000). Ordo Sauria salah satunya adalah tokek. Perbedaan motif warna dapat membedakan antara tokek satu dengan tokek yang lainnya. Tokek biasa memiliki ciri fisik berupa benjolan-benjolan kecil yang rendah dalam deret yang tidak beraturan di tubuhnya. Di siang hari warna biru dapat tersamarkan dan terlihat menjadi lebih tua. Hal ini terjadi karena warna biru menyatu dengan warna merah dan terlihat warna cokelat tua atau cokelat kemerahan. Bagian bawah tokek biasa berwarna putih. Spesies ini dapat memiliki panjang tubuh hingga 250 mm dengan panjang tubuh maksimal 350 mm (McKay 2006). Tokek memiliki kebiasaan menjilati mata bila kotoran menempel hingga bersih (Cogger & Zweifel 2003). Tokek akan melepaskan ekornya (autotomi) bila dalam keadaan terdesak, hal itu dilakukan untuk mengelabui musuhnya. Melepaskan ekornya juga merupakan salah satu cara tokek untuk berlari dengan cepat. Ekor akan tumbuh sekitar 3 minggu kemudian dan akan kembali seperti bentuk semula dalam waktu 4 bulan (Susilo & Rahmat 2010). Subordo serpentes dikenal dengan keunikannya yaitu merupakan Reptilia yang seluruh anggotanya tidak berkaki (kaki mereduksi) dari ciri-ciri ini dapat diketahui bahwa semua jenis ular termasuk dalam subordo ini. Ciri lain dari subordo ini adalah seluruh anggoanya tidak memiliki kelopak mata. Sedangkan fungsi pelindung mata digantikan oleh sisik yang transparan yang menutupinya. Berbeda dengan anggota Ordo Squamata yang lain, pertemuan tulang rahang bawahnya dihubungkan dengan ligament elastic (Brotowidjoyo, 1989). Keunikan lain yang dimiliki oleh subordo ini adalah seluruh organ tubuhnya termodifikasi memanjang. Dengan paru-paru yang asimetris, paru-paru kiri umumnya vestigial atau mereduksi. Memiliki organ perasa sentuhan (tactile organ) dan reseptor yang disebut Organ Jacobson ada pula pada beberapa jenis yang dilengkapi dengan Thermosensor. Ada sebagian famili yang memiliki gigi bisa yang fungsinya utamanya untuk melumpuhkan mangsa dengan jalan mengalirkan bisa ke dalam aliran darah mangsa (Yatim, 1985). Ada 4 tipe gigi yang dimiliki Subordo Serpentes, yaitu Aglypha (tidak memiliki gigi bisa), contohnya pada Famili Pythonidae, dan Boidae. Proteroglypha (memiliki gigi bisa yang terdapat di deretan gigi muka), contohnya pada Famili Elapidae dan Colubridae. Solenoglypha (memiliki gigi bisa yang bisa dilipat sedemikian rupa pada saat tidak dibutuhkan), contohnya pada Famili Viperidae. Ophistoglypha (memiliki gigi bisanya yang terdapat di deretan gigi belakangnya), contohnya pada Famili Hydrophiidae ( Djuhanda, 1983). Sedangkan untuk bisa ular, terdapat 3 jenis bisa yang digunakan untuk melumpuhkan mangsa, perlindungan diri ataupun untuk membantu pencernaannya, yaitu Haemotoxin merupakan bisa yang menyerang sistem peredaran darah yaitu dengan cara menyerang sel-sel darah. Contoh famili yang memiliki bisa tipe ini adalah Colubridae dan Viperidae. Cardiotoxin merupakan bisa yang dapat menyerang pembuluh darah dan juga jantung dengan cara melemahkan otot-otot jantung sehingga detaknya melambat dan akhirnya dapat berhenti. Contoh famili yang memiliki bisa jenis ini tidak spesifik, dalam arti banyak famili yang sebagian anggotanya memiliki bisa jenis ini. Neurotoxin merupakan bisa yang menyerang syaraf, menjadikan syaraf mangsanya lemah sehingga tidak dapat bergerak lagi dan dapat dimangsa dengan mudah. Famili Elapidae dan Hydrophiidae adalah contoh famili yang memiliki bisa tipe ini (Iskandar, 2000). Sub ordo serpentes memiliki empat family yaitu Elaphidae, Colubridae, Viperidae, dan Hidropidae. Elapidae merupakan famili yang anggotanya kebanyakan ular berbisa yang banyak ditemukan di daerah tropis dan subtropis.terdiri dari 61 genus dengan 231 spesies yang telah diketahui. Biasanya memiliki gigi bisa tipe Solenoglypha dan ketika menutup gigi bisanya akan berada pada cekungan di dasar bucal. Bisa tipe neurotoxin. Dekat kekerabatannya dengan Famili Hydrophiidae. Pupil mata membulat karena kebanyakan merupakan hewan diurnal. Famili ini dapat mencapai ukuran 6m (Ophiophagus hannah) dan biasanya ovipar namun adapula yang ovovivipar (Hemachatus) ( Bennet, 1999). Famili Colubridae memiliki ciri yang dapat membedakan dengan famili yang lain diantaranya sisik ventralnya sangat berkembang dengan baik, melebar sesuai dengan lebar perutnya. Kepalanya biasanya berbentuk oval dengan sisik-sisik yang tersusun dengan sistematis. Ekor umumnya silindris dan meruncing. Famili ini meliputi hampir setengah dari spesies ular di dunia. Kebanyakan anggota famili Colubidae tidak berbisa atau kalaupun berbisa tidak terlalu mematikan bagi manusia. Gigi bisanya tipe proteroglypha dengan bisa haemotoxin Genusnya antara. lain: Homalopsis, Natrix, Ptyas, dan Elaphe (Djuhanda, 1982). Hydrophiidae merupakan famili dari ular akuatik yang memiliki bisa yang tinggi. Tipe gigi bisa yang dimiliki anggota famili ini kebanyakan Proteroglypha dengan tipe bisa neurotoxin. Biasanya warnanya belang-belang dan sangat mencolok. Bagian ekor termodifikasi menjadi bentuk pipih seperti dayung yang befungsi untuk membantu pergerakan di air. Persebaran anggota famili ini di perairan tropis yaitu kebanykan di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik bagian barat. Untuk spesies Pelamis platurus persebarannya hingga Samudra Pasifik Timur dan untuk Aipysurus laevis cenderung untuk hidup di daerah terumbu karang. Kebanyakan hidup di dasar laut dengan sesekali naik ke permukaan untuk bernafas (Zug, 1993). Famili viperidae memiliki gigi bisa solenoglypha dengan bisa jenis haemotoxin. Famili ini kebanyakan merupakan ular terran yang hidup di gurun. Namun ada pula yang hidup di daerah tropis. Tersebar hampir di seluruh dunia. Sisiknya biasanya termodifikasi menjadi lapisan tanduk tebal dengan pergerakan menyamping. Memiliki facial pit sebagai thermosensor. Kebanyakan anggota familinya merupakan hewan yang ovovivipar dan beberapa ada yang bertelur. Subfamili yang ada di Indonesia adalah Crotalinae yang terdiri dari 18 genus dan 151 spesies (Zug, 1993). Python merupakan famili dari ular tidak berbisa. Beberapa mengelompokkannya sebagai subfamili dari Boidae yaitu Pythoninae. Pythonidae dibedakan dari Boidae karena mereka punya gigi di bagian premaxila, semacan tukang kecil di bagian paling depan dan tengah dari rahang atas. Kebanyakan hidup di daerah hutan hujan Tropis. Merupakan ular yang tercatat mampu mencapai ukuran paling besar, 10m (Python reticulatus). Beberapa spesies menunjukkan adanya tulang pelvis dan tungkai belakang yang vestigial berupa taji di kanan dan kiri kloaka. Taji ini lebih besar pada yang jantan dan berguna untu merangsang pasangannya pada saat kopulasi. Boidae dikenal sebagai famili ular pembelit, habitatnya biasanya arboreal. Dengan persebaran di Columbia, Suriname, Bolivia, Argentina, dan Asia. Pembuluh darah dan organ pernafasannya masih primitive, memiliki sisa tungkai belakang yang vestigial. Moncongnya dapat digerakkan. Tipe giginya aglypha. Famili ini memiliki genus diantaranya: Acrantophis, Boa, Candoia, Corallus, Epicrates, Eryx, Eunectes, Gongylophis, dan Sanzinia (Zug, 1993). Kebanyakan jenis ular berkembang biak dengan bertelur. Jumlah telurnya bisa beberapa butir saja hingga puluhan dan ratusan. Ular meletakkan telurnya di lubang-lubang tanah, gua, lubang kayu lapu, atau di bawah timbunan daun-daun kering. Beberapa jenis ular diketahui menunggui telurnya hingga menetas. Sebagian ular, seperti ular kadut belang, ular pucuk dan ular bangkai laut, melahirkan anaknya. Melahirkan disini tidak seperti pada mamalia, melainkan telurnya berkembang dan menetas di dalam tubuh induknya (ovovivipar), lalu keluar sebagai ular kecil-kecil. Sejenis ular primitif, yakni ular buta atau ular kawat Rhampotyphlops braminus, sejauh ini hanya diketahui yang betinanya saja. Ular kecil yang seperti cacing ini diduga mampu bertelur dan berkembang biak tanpa ular jantan ( Jafnir, 1985). Ular memangsa berbagai jenis hewan aquatic seperti ikan, kodok, berudu. Ular besar seperti sanca kembung atau Python reticulata dapat memangsa kambing, kijang, ruda bahkan manusia.Ular mengunjah mangsanya bulat-bulat artinya tanpa dikunyah menjadi keeping-keping yang lebih kecil, agar lancer mengunyah maka ular memilih menelan mangsanya dengan kepala lebih dahulu. Ular sanca kembung atau Python reticulate membunuh mangsanya dengan cara melilitnya hingga tak bernafas. Ular-ular berbisa membunuh mangsanya dengan bisa yang dapat melumpuhkan system saraf, pernafasan dan jantung dalam beberapa menit saja. Untuk mengidentifikasi ular yang paling akurat adalah dengan melihat sisik di kepalanya. Cara lain adalah dengan melihat bentuk morfologi tibuhnya dan motif pada sisiknya (Goin, 1971). Determinasi yaitu membandingkan suatu spesies dengan spesies lain yang sudah dikenal sebelumnya. Syarat kunci determinasi yang baik menurut Vogel (1989)adalah Ciri yang dimasukkan mudah diobservasi, karakter internal dimasukkan bila sangat penting. Kemudian Menggunakan karakter positif dan mencakup seluruh variasi dalam grupnya, Deskripsi karakter dengan istilah umum yang dimengerti orang (tidak menggunakan istilah khusus yang sulit dimengerti orang), Menggunakan kalimat sesingkat mungkin, hindari deskripsi dalam kunci, mencantumkan nomor couplet, mulai dari ciri umum ke khusus, bawah ke atas. berdasarkan cara penyusunan sifat-sifat yangharus dipilih maka dikenal tiga macam kunci determinasi, yaitu kunci perbandingan, kunci analisis, dan synopsis (Rifai 1976). II. PELAKSANAAN PRAKTIKUM 2.1 Waktu dan tempat Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 10 dan 29 Maret 2012 , di Laboratorium Teaching 2, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang. 2.2 Alat dan bahan Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah bak bedah, vernier caliper, panggaris, atau rol, alat tulis, pinset, sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah Kadal (Mabouya multifasciata), cicak rumah (Hemidactylus frenatus), Kura-kura (Manouria emys), Labi-labi (Dagonia subplana), kura-kura Brazil (Trachemys scripta elegans) dan Tokek (Gecko monarchus), Python reticulatus, Boiga cynodon, Ahaetulla prasina, Dendrelaphis pictus, Dendrelaphis striatus, Dendrelaphis caudolineatus, dan Xenochropus trianguligerus 2.3 Cara kerja Langkah yang dilakukan pada praktikun ini adalah sediakan alat-alat dan bahan-bahan praktikum pada bak bedah. Lalu diamati dan digambar, kemudian lakukan pengukuran dan perhitungan atau pencatatan terhadap beberapa karakter morfologinya seperti : panjang badan, panjang ekor, lebar kepala, tinggi kepala,panjang kepala-leher, panjang kaki depan, panjang kaki belakang, diameter mata, panjang moncong, lalu amati juga tipe-tipe umum dari reptil, seperti warna tubuh, ada gigi atau tidak, punya carapase atau tidak, jelas tidaknya hemicliteris, dan hemipenis, ada tidaknya plastron, dan karakter-karakter yang lain dianggap khas dan menonjol untuk non serpenthes sedangkan untuk serpenthes yang diamati adalah Panjang kepala, Panjang moncong, Panjang ekor, Panjang total, Diameter mata, Bentuk sisi kepala, Bentuk sisik ekor, Sisik infra orbital, Sisik supra labial, Sisik infra labial, Sisik dorsal, Sisik ventral, Sisik sub caudal, Bentuk badan, Bentuk kepala, Bentuk pupil, Ada/ tidak loreal pit, Sisik rostral, Sisik anal, Tipe sisik, dan warna. Kemudian buat klasifikasinya secara lengkap.   III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Identifikasi 3.1.1 Gecko monarchus Klasifikasi Kingdom : Animalia Filum : Chordata Sub Filum : Vertebrata Kelas : Reptilia Ordo : Squamata Sub Ordo : Sauria Famili : Geckonidae Genus : Gecko Species : Gecko monarchus Linnaeus, 1758 Gambar 1. Gecko monarchus Dari hasil pengukuran, didapatkan hasil sebagai berikut Gecko monarchus memiliki panjang total (TL) 170 mm, panjang kepala (HL) 35 mm, lebar kepala (HW) 15 mm, tinggi kepala (HD) 19 mm, panjang total kaki depan (FL) 25 mm, panjang lengan atas (UFL A) 10 mm, panjang kaki bawah ( LFL A) 15 mm, panjang femur (UFL B) 15 mm, panjang tungkai (LFL B) 20 mm, panjang total kaki belakang (HLL) 35 mm, panjang ekor (TL) 65 mm, panjang badan (TAL) 30 mm, panjang kepala-leher (HN) 30 mm, memiliki hemipenis, dan tubuh berwarna coklat pada daerah dorsal dan berwarna krem pada daerah ventral. Gekko monarchus memiliki karakter sebagai berikut: Ukuran tubuh medium (SVL 56,2-80,7 mm untuk jantan dewasa; 40,6-69,7 mm untuk betina dewasa), warna gelap dengan tulang belakang berbaris melintang, supralabials 11-13 mm, preanofemorals 31-40 mm, Toe IV scansors 13-15 mm, internasals menghubungkan rostral 1 atau 2, jarak inter nares 5 mm; midbody sisik ventral 38-44 ; midbody sisik punggung 96-112; midbody tuberkulum baris 16-20; tuberkel vertebralis di ketiak-selangkangan berjarak 18-23 mm; skala pravertebral di ketiak-selangkangan berjarak 171-203 mm; sisik ventral di ketiak-selangkangan berjarak 57-61 mm (Brown & Alcala, 1978). Jari kaki merupakan salah satu pelengkap fisik tokek dan cicak. Aryulina et al (2004) menjelaskan bahwa mesoderm akan mengalami differensiasi membentuk tulang . diduga faktor terjadinya abnormalitas pada fisik tokek dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan pada saat embrio yang berupa infeksi penyakit. Menurut Angga (2010) tokek menggunakan ekornya untuk bermanuver selama jatuh bebas dan mengubah arah jatuhnya. Saat jatuh diawali dengan punggung yang menghadap ke bawah, namun saat mulai meluncur ekornya diputar sehingga posisi perut berada dibawah. Saat melayang di udara, ekor berperan untuk mengarahkan gerakan. Jika ekor dikibaskan ke kiri, maka badannya akan berbelok ke kiri, saat dikibaskan ke kanan, makan badannya akan mengarah ke kanan. Van Hoeve (2003) menyebutkan bahwa mata tokek biasanya berukuran besar dan memiliki warna yang indah. Schmidt (1997) menyatakan bahwa terdapat dua bentuk iris mata pada Geckonidae, yaitu vertikal dan horizontal. Susilo dan Rahmat (2010) menyatakan bahwa warna kulit jantan lebih gelap dari warna kulit betina. Ukuran jantan dapat terlihat dengan membandingkan bagian kepala dan ekor. Pada bagian kepala dan ekor jantan lebih besar dibandingkan betina baik di usia muda dan dewasa (Xu dan Ji, 2006). 3.1.2 Hemidactylus frenatus Klasifikasi Kingdom : Animalia Filum : Chordata Sub Filum : Vertebrata Kelas : Reptilia Ordo : Squamata Sub Ordo : Sauria Famili : Geckonidae Genus : Hemidactylus Species : Hemidactylus frenatus Duméril & Bibron, 1836 Gambar 2. Hemidactylus frenatus Dari hasil pengukuran, didapatkan hasil sebagai berikut Hemidactylus frenatus memiliki panjang total (TL) 110 mm, panjang kepala (HL) 20 mm, lebar kepala (HW) 10 mm, tinggi kepala (HD) 6 mm, panjang total kaki depan (FL) 15 mm, panjang lengan atas (UFL A) 5 mm, panjang kaki bawah ( LFL A) 9 mm, panjang femur (UFL B) 10 mm, panjang tungkai (LFL B) 15 mm, panjang total kaki belakang (HLL) 24 mm, panjang ekor (TL) 65 mm, panjang badan (TAL) 30 mm, panjang kepala-leher (HN) 25 mm, tidak memiliki penis, dan tubuh berwarna coklat pada daerah dorsal dan berwarna putih pada daerah ventral. Badan Hemidactylus frenatus seperti kadal atau berbentuk pipih dorsolateral dengan terbungkus bintil-bintil sisik yang dapat terkelupas sebagian. Pada cicak, sisik mereduksi menjadi tonjolan atau tuberkulum. Pada lidah terdapat lekukan dangkal pada ujung lidah. Hemydactylus frenatus sering dijumpai di rumah- rumah yang merayap pada dinding. Cicak rumah memiliki warna yang lebih terang dan halus dari tokek (Goin, 1971). Cicak mendapatkan makanannya dengan cara menangkap atau memburu mangsa menggunakan mulut dan mangsa ditelan secara utuh (raptoral) (Harrison 1961: Goin & Goin 1970). Beberapa spesies cicak memakan serangga, laba- laba, buah-buahan, madu, bangkai (carrion eating), dan menjilat cairan (Harrison 1961). 3.1.3 Mabouya multifasciata Klasifikasi Kingdom : Animalia Filum : Chordata Sub Filum : Vertebrata Kelas : Reptilia Ordo : Squamata Sub Ordo : Sauria Famili : Scincidae Genus : Mabouya Species : Mabouya multifasciata Kuhl, 1820 Gambar 3. Mabouya multifasciata Dari hasil pengkuran, didapatkan hasil sebagai berikut Mabouya multifasciata memiliki panjang total (TL) 190 mm, panjang kepala (HL) 20 mm, lebar kepala (HW) 10 mm, tinggi kepala (HD) 7 mm, panjang total kaki depan (FL) 35 mm, panjang lengan atas (UFL A) 10 mm, panjang kaki bawah ( LFL A) 10 mm, panjang femur (UFL B) 15 mm, panjang tungkai (LFL B) 25 mm, panjang total kaki belakang (HLL) 35 mm, panjang ekor (TL) 110 mm, panjang badan (TAL) 35 mm, panjang kepala-leher (HN) 39 mm, memiliki penis, dan tubuh berwarna coklat pada daerah dorsal dan berwarna putih pada daerah ventral. Penampang tubuh dari Mabuya multifasciata bersegi empat tumpul. Sisi atas tubuh berwarna coklat tembaga keemasan, kerap dengan bercak-bercak kehitaman di tepi sisik yang mebentuk pola garis memanjang yang kabur terputus-putus. Sisi lateral tubuh dengan warna gelap kehitaman atau coklat berbintik-bintik . Sisi bawah tubuh berwarna abu-abu keputihan (Goin, 1971). Mabuoya multifasciata merupakan kadal yang banyak ditemukan di pekarangan, kebun-kebun, tegalan, rerumputan atau persawahan, sampai ke hutan belukar. Gesit dan agak gemuk, kepala seolah-olah menyatu dengan leher yang gemuk kokoh; penampang tubuh nampak bersegi empat tumpul. Total panjangnya hingga sekitar 22 cm, kurang-lebih 60% daripadanya adalah ekor. Sisi atas tubuh berwarna coklat tembaga keemasan, kerap dengan bercak-bercak kehitaman di tepi sisik yang membentuk pola garis memanjang yang kabur terputus-putus. Sisi lateral tubuh dengan warna gelap kehitaman atau kecoklatan berbintik-bintik putih (pada yang betina atau hewan muda), atau keputihan dengan saputan warna kuning terang hingga jingga kemerahan (pada kadal jantan). Sisi bawah tubuh abu-abu keputihan atau kekuningan (Iskandar, 2000). Tubuh memanjang tertekan lateral, kaki empat, kuat dapat digunakan untuk memanjat, madibula bersatu dengan anterior. Tulang pterigoid berkotak dengan tulang kuadrat. Kelopak mata dapat digerakkan. Sabuk pektoral berkembang dengan baik. Mulut lengkap. Mempunyai kandung kemih. Gendang telinga terlihat dari luar. Ekornya digunakan untuk keseimbangan gerak ketika berlari. Kulit tertutup sisik yang tersusun seperti susunan genting, sisik-sisik ini lunak. Terdapat 3.000 spesies (Brotowijoyo, 1995). Menurut Brotowidjojo (1995) tubuh kadal terletak lateral. Kakinya dapat digunakan untuk memanjat. Mandibula bersatu dengan anterior, kelopak mata dapat digerakkan. Sabuk pektoral dapat berkembang, gendang telingga dapat dilihat dari luar, ekor dapat digerakkan dan berfungsi sebagai alat keseimbangan, dengan kulit yang tertutup yang tersusun seperti genting dan lunak. Vertebrae ekor tidak menulang secara sempurna, ekor mudah putus, tetapi cacat mengalami regenerasi. Columna vertebrae terbagi menjadi servikal, torax, lumbar, sakral, dan kaudal. Ada tulang rusuk yang bebas. Tulang-tulang sebagian terdiri atas kartilago. Kolumna vertebralis dengan otot-otot segmental yang nampak jelas (Brotowidjojo, 1995). 3.1.4 Dagonia subplana Klasifikasi Kingdom : Animalia Filum : Chordata Sub Filum : Vertebrata Kelas : Reptilia Ordo : Testudinata Famili : Trionychidae Genus : Dagonia Species : Dagonia subplana Geoffroy, 1809 Gambar 4. Dagonia subplana Dari hasil pengkuran, didapatkan hasil sebagai berikut Dagonia subplana memiliki panjang total (TL) 220 mm, panjang kepala (HL) 30 mm, lebar kepala (HW) 35 mm, tinggi kepala (HD) 25 mm, panjang total kaki depan (FL) 70 mm, panjang lengan atas (UFL A) 30 mm, panjang kaki bawah ( LFL A) 40 mm, panjang femur (UFL B) 30 mm, panjang tungkai (LFL B) 50 mm, panjang total kaki belakang (HLL) 80 mm, panjang ekor (TL) 20 mm, panjang badan (TAL) 125 mm, panjang kepala-leher (HN) 80 mm, tidak memiliki penis, memiliki carapace, dan tubuh berwarna hitam pada daerah dorsal dan berwarna abu-abu pada daerah ventral. Hewan ini termasuk ordo chelonia , cangkangnya lunak dengan panjang tubuh 220 mm.Gigi hewan ini menyatu dan memiliki hidung yang menyerupai belalai. Selain itu, Hewan yang di kenal dengan labi – labi ini memiliki cakar dan memiliki tulang rawan. Dagania subplana ini hidup di air yang berlumpur dan berarus tenang. Lehernya panjang dengan permukaan atasnya mempunyai ruang dan garis longitudinal dan bagian bawahnya berwarna oranye. Kepalanya relatif besar dan hidung berbentuk tubular, sehingga penampilannya yang menawan ( Iskandar , 2000 ). Dagonia subplana hidup di alam seperti rawa-rawa, danau, sungai dan dapat pula hidup di kolam yang suhu airnya berkisar 25-30 o C. Hewan ini biasanya bersifat nokturnal, di siang hari lebih banyak bersembunyi dalam lumpur. Habitat yang disukai adalah perairan tergenang dengan dasar perairan lumpur berpasir , terdapat batu-batuan dan tak terlalu dalam. Labi-labi biasanya tak hanya tinggal di dasar perairan, tetapi terkadang nampak di atas batu-batuan untuk berjemur. Labi-labi biasanya menyukai perairan yang banyak dihuni oleh hewan air (molusca, ikan, crustacea dan lain-lain) serta pada permukaan airnya terdapat tumbuh-tumbuhan air seperti enceng gondok, salvinia, monochorida, teratai dan lain-lainnya karena dapat menjadi bahan makanan di dalam air (Carr, 1977). 3.1.5 Trachemys scripta elegans Klasifikasi Kingdom : Animalia Filum : Chordata Sub Filum : Vertebrata Kelas : Reptilia Ordo : Testudinata Famili : Emydidae Genus : Trachemys Species : Trachemys scripta elegans Laurenti, 1768 Gambar 5. Trachemys scripta elegans Dari hasil pengkuran, didapatkan hasil sebagai berikut Trachemys scripta elegans memiliki panjang total (TL) 130 mm, panjang kepala (HL) 25 mm, lebar kepala (HW) 20 mm, tinggi kepala (HD) 15 mm, panjang total kaki depan (FL) 30 mm, panjang lengan atas (UFL A) 20 mm, panjang kaki bawah ( LFL A) 10 mm, panjang femur (UFL B) 15 mm, panjang tungkai (LFL B) 35 mm, panjang total kaki belakang (HLL) 50 mm, panjang ekor (TL) 25 mm, panjang badan (TAL) 50 mm, panjang kepala-leher (HN) 50 mm, tidak memiliki penis, memiliki carapace (dorsal) dan plsatron (ventral) serta tubuh berwarna hijau bercorak merah pada daerah dorsal dan berwarna kuning pada daerah ventral. Dewasa mempunyai panjang sekitar 125 sampai dengan 289 mm. Kura-kura air tawar ini ditandai warna kuning mencolok dengan merah pada bagian kepala. Tempurung dan kulit kura-kura berwarna coklat muda dengan garis atau bintik kuning. Jantan biasanya lebih kecil daripada betina. Telur berbentuk bulat telur dengan panjang 31-43 milimeter, dan lebar 19 hingga 26 milimeter serta memiliki berat 6,1-15,4 gram (Anonymous a, 2011). Kura-kura ini hidup di air tawar seperti di sungai, parit, rawa-rawa, danau dan kolam. Kura-kuta hidup di perairan yang tenang dan dalam dengan makanan berupa tanaman air yang serta tempat berjemur yang nyaman. Meskipun lebih menyukai air tawar, kura-kura ini juga dapat beradaptasi di air payau. Kura-kura ini membatasi aktifitasnya pada daerah yang vegetasinya terlalu padat. Kura-kura ini juga tidak dapat memperoleh makanan atau tumbuh pada suhu yang melebihi 10OC-30OC (Anonymous a, 2011). 3.1.6 Manouria emys Klasifikasi Kingdom : Animalia Filum : Chordata Sub Filum : Vertebrata Kelas : Reptilia Ordo : Testudinata Famili : Testudinidae Genus : Manouria Species : Manouria emys Linnaeus, 1758 Gambar 6. Manouria emys Dari hasil pengkuran, didapatkan hasil sebagai berikut Manouria emys memiliki panjang total (TL) 250 mm, panjang kepala (HL) 25 mm, lebar kepala (HW) 30 mm, tinggi kepala (HD) 30 mm, panjang total kaki depan (FL) 100 mm, panjang lengan atas (UFL A) 50 mm, panjang kaki bawah ( LFL A) 40 mm, panjang femur (UFL B) 50 mm, panjang tungkai (LFL B) 80 mm, panjang total kaki belakang (HLL) 120 mm, panjang ekor (TL) 50 mm, panjang badan (TAL) 60 mm, panjang kepala-leher (HN) 60 mm, memiliki penis, memiliki carapace (dorsal) dan plastron (ventral) serta tubuh berwarna coklat pada daerah dorsal dan juga berwarna coklat pada daerah ventral. Manouria emys atau Kura Kura Kaki Gajah berasal dari Sumatera di Indonesia. M. emys dapat mencapai panjang sekitar 80cm. Bertelur pada menjelang musim hujan dengan jumlah 2 clutch per tahun, jumlah masing-masing telur 5-8 butir. Di alamnya M. emys memakan rumput, daun talas, buah-buahan yang jatuh dan daun-daun dari tanaman air seperti Lotus. M. emys tersebar dari Sumatera hingga Kalimantan. Hidup di hutan hujan tropis pada daerah pegunungan menyebabkan M. emys sangat menyukai kelembaban. Untuk menghindari dari panas yang menyengat, M. emys menggali lubang untuk berteduh dengan menggunakan kakinya yang sangat kuat atau bersembunyi di bawah daun-daun kering. Kura ini juga suka berendam pada kubangan-kubangan air (Anonymous b, 2008) M. emys tidak menyukai panas yang terlalu menyengat, dapat mengalami dehidrasi dan menyebabkan kematian, berikan tempat perlindungan pada kandang kura-kura sehingga jika terlalu panas kura tersebut dapat menjauhkan diri/bersembunyi di tempat teduh. Dan M. emys suka tempat yg lembab sehingga suka berendem didalam air yg dangkal. Biarpun kelihatan lambat, tapi kura-kura juga pandai melarikan diri. Pada musim hujan gunakan lampu khusus reptil yang mengandung UVA-UVB (Full spectrum Lamp). UVA digunakan untuk menambah selera makan dan memproses makanan di tubuh reptil. UVB digunakan untuk memproses Vitamin D3 pada makanannya karena reptil tidak bisa mensintesa Vitamin D3 tanpa bantuan UVB (Anonymous b, 2008) 3.1.7 Boiga cynodon Klasifikasi Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Reptilia Ordo : Squamata Sub Ordo : Serpentes Family : Colubridae Genus : Boiga Spesies : Boiga cynodon Boie, 1827 Gambar 7. Boiga cynodon Ciri yang teramati dari Boiga cynodon adalah memiliki panjang kepala (PK) 3,5 cm, panjang moncong (PM) 2 cm, panjang ekor (PE) 30 cm, Panjang total (PT) 140 cm, Diameter mata (DM) 0,5 cm, bentuk sisik ekor (BSE) double, sisik infra orbital (SIO) 2, sisik supra orbital (SSO) 4, sisik supra labial (SSL) 7, sisik infra labial (SIL) 6, sisik dorsal (SD) 17, sisik ventral (SV) 243, sisik sub caudal (SSC) 154, Bentuk badan (BB) slender, bentuk kepala (BK) medium, Bentuk pupil (BP) rounded, sisik rostral (SR) 1, sisik anal (SA) 2, tipe sisik (TS) smooth, warna coklat. Panjang total tubuhnya mencapai 2450 mm. Jenis ini mempunyai pola warna dasar oranye coklat-coklatan (kecuali ekor), hanya bagian atas dan bawah badan saja berwarna hitam. Kepala dan badannya berwarna coklat muda atau kekuning-kuningan dengan garis-garis melintang berwarna hitam (gelap) kadangkala ada bintik-bintik putih (terang) yang semakin lebar ke arah ekornya. Pada kepala terdapat garis yang berasal dari mata sampai ke tengkuk. Perut berwarna coklat muda (terang). Ular ini biasanya ditemukan pula dalam bentuk seluruh tubuhnya berwarna hitam (Anonymous, 2012 c). Panjang jarak antara moncong-anus mencapai 1975 mm. Sisik bibir atas sebanyak 8 sampai 10, sisik ketiga sampai kelima atau keempat dan kelima atau keempat sampai keenam atau kelima sampai ketujuh menyentuh mata. Sisik preocular tampak jelas terlihat dari atas dan agak sulit untuk dapat dibedakan dengan sisik frontal. Sisik loreal ukurannya panjang, sama dengan ukuran tingginya. Sisik postocular 2. Sisik temporal 2+2, 2+3 atau 3+3. Sisik-sisik dorsal bagian tengah badannya berjumlah 23, jarang ada yang 21 atau 25 baris sedangkan sisik-sisik vertebral lebih besar dari pada sisik-sisik di sekitarnya. Sisik-sisik ventral sebanyak 245-292. Sisik anal tunggal. Sisik-sisik subcaudal sebanyak 114-163 dan terdiri dari dua baris (Anonymous, 2012 c). Jenis ular ini sering ditemukan istirahat di atas cabang-cabang pohon di daerah dataran rendah dan aktifitas hariannya pada malam hari. Perkembang-biakannya dengan cara bertelur (oviparous), mencapai 9-12 telur. Kebanyakan memakan burung tapi juga binatang mammal kecil, kadal maupun ular jenis lainnya. Ular ini termasuk jenis yang berbisa sedang, gigitannya dapat menyebabkan sakit dengan luka yang cukup serius(Anonymous, 2012 c). 3.1.8 Dendrelaphis pictus Klasifikasi Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Reptilia Ordo : Squamata Sub Ordo : Serpentes Family : Colubridae Genus : Dendrelaphis Spesies : Dendrelaphis pictus Gmelin, 1789 Gambar 8. Dendrelaphis pictus Ciri yang teramati dari Dendrelaphis pictus adalah memiliki panjang kepala (PK) 2 cm, panjang moncong (PM) 1,3 cm, panjang ekor (PE) 30 cm, Panjang total (PT) 90 cm, Diameter mata (DM) 0,4 cm, bentuk sisik ekor (BSE) double, sisik infra orbital (SIO) 2, sisik supra orbital (SSO) 3, sisik supra labial (SSL) 10, sisik infra labial (SIL) 11, sisik dorsal (SD) 16, sisik ventral (SV) 176, sisik sub caudal (SSC) 79, Bentuk badan (BB) slender, bentuk kepala (BK) broad, Bentuk pupil (BP) rounded, sisik rostral (SR) 1, sisik anal (SA) 2, tipe sisik (TS) smooth, warna coklat. Ular yang kurus ramping, panjang hingga sekitar 1,5 m; meskipun pada umumnya kurang dari itu. Ekornya panjang, mencapai sepertiga dari panjang tubuh keseluruhan. Coklat zaitun seperti logam perunggu di bagian punggung. Pada masing-masing sisi tubuh bagian bawah terdapat pita tipis kuning terang keputihan, dipisahkan dari sisik ventral (perut) yang sewarna oleh sebuah garis hitam tipis memanjang hingga ke ekor. Kepala kecoklatan perunggu di sebelah atas, dan kuning terang di bibir dan dagu; diantarai oleh coret hitam mulai dari pipi yang melintasi mata dan melebar di pelipis belakang, kemudian terpecah menjadi noktah-noktah besar dan mengabur di leher bagian belakang. Terdapat warna-warna peringatan berupa bintik-bintik hijau terang kebiruan di bagian leher hingga tubuh bagian muka, yang biasanya tersembunyi di bawah sisik-sisik hitam atau perunggu dan baru nampak jelas apabila si ular merasa terancam. Sisik-sisik ventral putih kekuningan atau kehijauan (Stuebing, 1999). Sisik-sisik dorsal dalam 15 deret di bagian tengah tubuh; sisik-sisik vertebral membesar, namun tak lebih besar dari deret sisik dorsal yang pertama (terbawah). Perisai labial 9 buah (jarang 8 atau 10), yang no 5 dan 6 (kadang-kadang juga yang no 4) menyentuh mata. Sisik-sisik ventral 167–200 buah, sisik anal sepasang, sisik-sisik subkaudal (bawah ekor) 127–164 buah (Tweedie, 1983). Mata besar, diameternya sama panjang dengan jaraknya ke lubang hidung. Anak mata bulat hitam; perisai preokular sebuah dan postokular dua buah. Perisai rostral lebar, terlihat dari sebelah atas; perisai internasal sama panjang atau sedikit lebih pendek dari perisai prefrontal; perisai frontal sama panjang dengan jaraknya ke ujung moncong, namun lebih pendek dari perisai parietal; perisai loreal panjang. Perisai temporal bersusun 2 + 2, 1 + 1 atau 1 + 2 (Roji, 1917). 3.1.9 Ahaetulla prasina Klasifikasi Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Reptilia Ordo : Squamata Subordo : Serpentes Famili : Colubridae Genus : Ahaetulla Spesies : Ahaetulla prasina Shaw, 1802 Gambar 9. Ahaetulla prasina Ciri yang teramati dari Ahaetulla prasina adalah memiliki panjang kepala (PK) 2 cm, panjang moncong (PM) 1,7 cm, panjang ekor (PE) 22 cm, Panjang total (PT) 52 cm, Diameter mata (DM) 0,3 cm, bentuk sisik ekor (BSE) double, sisik infra orbital (SIO) 3, sisik supra orbital (SSO) 4, sisik supra labial (SSL) 9, sisik infra labial (SIL) 9, sisik dorsal (SD) 17, sisik ventral (SV) 221, sisik sub caudal (SSC) 164, Bentuk badan (BB) slender, bentuk kepala (BK) broad, Bentuk pupil (BP) horizontal, sisik rostral (SR) 1, sisik anal (SA) 2, tipe sisik (TS) smooth, warna coklat. Ular berwarna hijau, panjang dan amat ramping. Terkadang ada pula yang berwarna coklat kekuningan atau krem atau keputihan, terutama pada hewan muda. Panjang tubuh keseluruhan mencapai 2 m, meski kebanyakan sekitar 1,5 m atau lebih; lebih dari sepertiganya adalah ekornya yang kurus seperti cambuk (David dan Vogel, 1997). Perisai (sisik-sisik besar) di bibir atas (supralabial) 8-9 buah, yang nomor 4 sampai 6 menyentuh mata. Sisik-sisik dorsal dalam 15 deret, 13 deret di dekat ekor. Sisik-sisik ventral 189-241 buah; sisik anal berbelah, jarang tunggal; sisik-sisik subkaudal 169-183 buah (Tweedie, 1983). 3.1.10 Python reticulatus Klasifikasi Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Reptilia Ordo : Squamata Sub Ordo : Serpentes Famili : Pythonidae Genus : Python Species : Python reticulatus Schneider, 1801 Gambar 10. Phyton reticulatus Ciri yang teramati dari Phyton reticulatus adalah memiliki panjang kepala (PK) 4 cm, panjang moncong (PM) 3 cm, panjang ekor (PE) 20 cm, Panjang total (PT) 100 cm, Diameter mata (DM) 0,5 cm, bentuk sisik ekor (BSE) single, sisik infra orbital (SIO) 4, sisik supra orbital (SSO) 4, sisik supra labial (SSL) 24, sisik infra labial (SIL) 24, sisik dorsal (SD) 55, sisik ventral (SV) 39, sisik sub caudal (SSC) 89, Bentuk badan (BB) typical, bentuk kepala (BK) medium, Bentuk pupil (BP) rounded, sisik rostral (SR) 1, sisik anal (SA) 2, tipe sisik (TS) smooth, warna coklat bercak hitam. Ular sanca kembang ini memiliki warna menarik, terdapat kaki rudimenter (kaki yang tereduksi). Ular sanca termasuk ular yang berumur panjang, hingga lebih dari 25 tahun. Kelebihan ular sanca kembang adalah memiliki penciuman yang tajam. Phyton hidup di hutan-hutan tropis yang lembab. Ular ini bergantung pada ketersediaan air, sehingga kerap ditemui tidak jauh dari badan air seperti sungai, kolam dan rawa. Makanan utamanya adalah mamalia kecil, burung dan reptilia lain seperti biawak. Ular yang kecil memangsa kodok, kadal dan ikan. Ular-ular berukuran besar dilaporkan memangsa anjing, monyet, babi hutan, rusa, bahkan manusia yang ‘tersesat’ ke tempatnya menunggu mangsa (Pope, 1956). 3.1.11 Xenochropis trianguligerus Klasifikasi Kingdom : Animalia Filum : Chordata Sub filum : Vertebrata Kelas : Reptilia Ordo : Squamata Sub ordo : Serpentes Famili : Colubridae Genus : Xenochropis Spesies : Xenochropis trianguligerus (Boie, 1827) Gambar 11. Xenochropis triangularis Ciri yang teramati dari Xenochropis trianguligerus adalah memiliki panjang kepala (PK) 1,8 cm, panjang moncong (PM) 1,5 cm, panjang ekor (PE) 13 cm, Panjang total (PT) 38 cm, Diameter mata (DM) 0,4 cm, bentuk sisik ekor (BSE) double, sisik infra orbital (SIO) 3, sisik supra orbital (SSO) 3, sisik supra labial (SSL) 3, sisik infra labial (SIL) 18, sisik dorsal (SD) 15, sisik ventral (SV) 134, sisik sub caudal (SSC) 82, Bentuk badan (BB) slender, bentuk kepala (BK) medium, Bentuk pupil (BP) rounded, sisik rostral (SR) 9, sisik anal (SA) 2, tipe sisik (TS) smooth, warna coklat orange terang. Ciri-ciri tersebut sesuai dengan pendapat Djuhanda (1982) bahwa Xenochropis trianguligerus mempunyai ular ini memiliki ukuran tubuh yang ramping dan gesit dengan panjang tubuh maksimal mencapai 120 cm, namun umumnya sekitar 80 cm atau kurang. Pupil matanya membulat karena ular ini merupakan hewan diurnal. Xenochropis trianguligerus merupakan jenis ular dari famili Colubridae. Ular perenang ini dinamai demikian karena memiliki deretan segitiga kemerahan di kedua sisi tubuhnya. Karena itu ia juga dikenal sebagai ular sisi-merah, atau bahkan terkadang disebut dengan nama yang tidak tepat yaitu ular picung. Xenochropis trianguligerus memiliki sisi bagian ventral bewarna coklat kelabu bercampur pola-pola hitam, dengan deretan segitiga terbalik kehitaman di atas berseling dengan segitiga kemerahan di bawah di sepanjang sisi tubuhnya. Warna kemerahan itu memudar di sebelah depan (dekat leher) dan sebelah belakang tubuh (perut hingga ekor). Kepala hijau zaitun sampai kecoklatan. Bibir, dagu dan tenggorok kuning. Terdapat beberapa coret hitam tipis di bibir atas, terutama di bawah dan belakang mata. Ventral (sisi bawah tubuh) berwarna keputihan, dengan belang-belang (perpanjangan segitiga gelap) di bawah ekor (Iskandar, 2000). Xenochropis trianguligerus merupakan jenis ular yang aktif di siang hari (diurnal), ular ini terutama memangsa kodok dan ikan, meski tidak jarang pula memburu reptilia kecil seperti kadal Xenochropis trianguligerus menyukai wilayah perairan seperti aliran sungai, saliran, payau dan rawa-rawa, serta kolam-kolam ikan dan sawah. Sering dijumpai tengah berenang di sungai kecil atau saluran irigasi. Kadang-kadang bersembunyi sambil berendam di antara tanaman air. Meskipun demikian ular segitiga-merah sering pula naik dan tinggal di darat (Weber, 1915). 3.1.12 Dendrelaphis caudolineatus Klasifikasi Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Reptilia Ordo : Squamata Sub Ordo : Serpentes Family : Colubridae Genus : Dendrelaphis Spesies : Dendrelaphis caudolineatus Gray & Hardwicke, 1834 Gambar 12. Dendrelaphis caudolineatus Ciri yang teramati dari Dendrelaphis caudolineatus adalah memiliki panjang kepala (PK) 2 cm, panjang moncong (PM) 2,5 cm, panjang ekor (PE) 26,5 cm, Panjang total (PT) 140 cm, Diameter mata (DM) 0,5 cm, bentuk sisik ekor (BSE) double, sisik infra orbital (SIO) 4, sisik supra orbital (SSO) 3, sisik supra labial (SSL) 16, sisik ventral (SV) 171, sisik sub caudal (SSC) 260, Bentuk badan (BB) slender, bentuk kepala (BK) medium, Bentuk pupil (BP) rounded, sisik rostral (SR) 1, sisik anal (SA) 2, tipe sisik (TS) smooth, warna coklat. Panjang ular ini dapat mencapai panjang 180 cm tapi biasanya sekitar 140 cm. Pada jantan biasanya lebih tipis dari betina tetapi lebih berwarna yang jantan , mulai dari warna kemerahan atau cokelat terang coklat, untuk warna perunggu mengkilat. Para betina biasanya berwarna kusam, dan lebih gemuk bertubuh daripada jantan. Betina dari spesies ini cenderung kurang aktif daripada jantan. Sebagian besar arboreal tapi jarang memanjat lebih tinggi dari 4 meter dan sebagian besar ditemukan di tanah terbuka atau di padang rumput. Telah tercatat dalam habitat yang paling dalam jangkauan, dari dataran rendah pantai ke daerah pegunungan sampai 1500 dalam ketinggian. Makanan terutama kadal dan katak pohon (David, 1997). 3.1.13 Dendrelaphis striatus Klasifikasi Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Reptilia Ordo : Squamata Sub Ordo : Serpentes Family : Colubridae Genus : Dendrelaphis Spesies : Dendrelaphis striatus Cohn, 1905 Gambar 13. Dendrelaphis striatus Ciri yang teramati dari Dendrelaphis striatus adalah memiliki panjang kepala (PK) 1,5 cm, panjang moncong (PM) 1,5 cm, panjang ekor (PE) 24,5 cm, Panjang total (PT) 65 cm, Diameter mata (DM) 0,4 cm, bentuk sisik ekor (BSE) double, sisik infra orbital (SIO) 2, sisik supra orbital (SSO) 3, sisik supra labial (SSL) 10, sisik infra labial (SIL) 17, sisik dorsal (SD) 171, sisik ventral (SV) 177, sisik sub caudal (SSC) 147, Bentuk badan (BB) slender, bentuk kepala (BK) medium, Bentuk pupil (BP) rounded, sisik rostral (SR) 1, sisik anal (SA) 2, tipe sisik (TS) smooth, warna coklat. Permukaan dorsal ini terlihat perunggu dengan serangkaian karakteristik yang sempit, hitam, bar vertikal di setiap sisi bagian anterior tubuh. Garis-garis lateral yang hitam dan putih tidak ditemukan pada ular ini. Sebuah garis, agak lebar hitam memanjang dari moncong, kembali melalui mata, pada leher. Para labials dan tenggorokan berwarna kuning dan abu-abu permukaan ventral atau coklat sangat ringan. Ular ini dapat tumbuh sampai 100cm (Anonymous, 2012 d). 3.2 Kunci Determinasi 1.a) memiliki ekstremitas 2 b) tidak memiliki ekstremitas 7 2 a) tubuh memanjang 3 b) tubuh membulat 5 3 a) lidah ditutupi papilae yang panjang 4 b) lidah ditutupi papilae yang pendek Mabouya multifasciata 4 a) kulit gelap dengan bintil kasar Gecko monarchus b) kulit terang dengan bintil yang harus Hemydactilus frenatus 5 a) memiliki carapacae denagn vertebrae yang jelas 6 b) memiliki carapacae dengan vertebrae yang tidak jelas Dagonia subplana 6 a) memiliki corak warna merah pada daerah kepala Trachemys scripta elegans b) tidak memiliki corak warna merah pada daerah kepala Manouria emys 7 a) habitat di air Xenochrophis trianguligerus b) habitat di darat 8 8 a) bentuk sisik ekor double 9 b) bentuk sisik ekor single Python reticulatus 9 a) memiliki pupil tipe rounded 10 b) memiliki pupil tipe horizontal Ahaetulla presina 10 a) jumlah sisik supra orbital 3 11 b) jumlah sisik supra orbital 4 Boiga cynodon 11 a) terdapat garis pada sisi lateral 12 b) tidak terdapat garis pada sisi lateral Dendrelaphis triatus 12 a) memiliki sisik bercorak warna merah Dendrelaphis caudolineatus b) memiliki sisik berwarna gelap Dendrelaphis pictus IV. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat disimpulkan: 1. Reptilia terbagi atas 4 bangsa, dan 3 anak bangsa sebagai berikut: Chelonii (Testudines); Rhynchocephalia (tuatara); Squamata dibagi menjadi 3 anak bangsa; Amphisbaenia, kadal cacing (worn lizard); Sauria (Lacertilia), kadal; Serpentes (Ophidia); Crocodylia, Aligator dan buaya. 2. Gecko monarchus (tokek) memiliki tubuh yang pipih dorsolateral, bagian dorsal kasar, dengan banyak bintil besar-besar berwarna abu-abu kebiruan sampai kecoklatan atau bintik-bintik berwarna merah bata sampai jingga dan bagian ventral berwarna abu-abu biru keputihan atau kekuningan. 3. Hemidactylus frenatus (cecak) memiliki tubuh yang pipih dorsolateral, bagian dorsal berwarna coklat keputihan berbintik-bintik dan bagian ventral berwarna putih atau agak kekuningan (krem). 4. Mabouya multifasciata . merupakan reptil yang mempunyai ciri-ciri khas seperti dia punya hemipenis dan hemiclitoris, dan punya sisik dengan tipe cycloid, dan punya gigi dengan tipe pleurodont. 5. Dogania subplana (labi-labi) memiliki tubuh yang membulat terbungkus oleh perisai, carapace lunak dan plastronnya berwarna keabu-abuan. 6. Trachemys scripta elegans merupakan kura-kura air tawar ini ditandai warna kuning mencolok dengan merah pada bagian kepala, tempurung dan kulit kura-kura berwarna coklat muda dengan garis atau bintik kuning. 7. Manouria emys memiliki tubuh berwarna coklat pada daerah dorsal dan berwarna coklat pada daerah ventral, menyukai daerah lembab. Untuk menghindar dari panas yang menyengat, M. emys menggali lubang untuk berteduh dengan menggunakan kakinya yang sangat kuat atau bersembunyi di bawah daun-daun kering. 8. Boiga cynodon memiliki tubuh yang agak cokelat muda dengan palang-palang cokelat atau hitam yang gelap menjadi relatif lebih tebal ke arah ekor dan racunnya tidak berbahaya. 9. Dendrelaphis pictus memiliki warna tubuh coklat zaitun seperti logam perunggu di bagian punggung, kepala berwarna kecoklatan perunggu di sebelah atas, dan kuning terang di bibir dan dagu, diantarai oleh coret hitam mulai dari pipi yang melintasi mata dan melebar di pelipis belakang, kemudian terpecah menjadi noktah-noktah besar dan mengabur di leher bagian belakang 10. Ahaetulla prasina memiliki warna dominan hijau di sepanjang punggungnya, dan kuning di sepanjang perutnya. Kepala hijau kekuningan, hijau zaitun atau kecoklatan di sebelah atas, dengan garis hitam melintasi mata, serta bibir yang berwarna kekuningan. Ekor kemerahan atau coklat muda keabu-abua. Sisik-sisik bertepi kuning atau gelap kehitaman. 11. Xenochropis triangularis memiliki sisi bagian ventral bewarna coklat kelabu bercampur pola-pola hitam, dengan deretan segitiga terbalik kehitaman di atas berseling dengan segitiga kemerahan di bawah di sepanjang sisi tubuhnya 12. Phyton reticulatus memiliki warna menarik, termasuk ular yang berumur panjang, hingga lebih dari 25 tahun, memiliki penciuman yang tajam 13. Dendrelaphis caudolineatus memiliki ciri khas pada sisik yang terdapat corak berwarna merah untuk membedakannya dengan Dendrelaphis lainnya. 14. Dendrelaphis striatus memiliki ciri khas pada sisik yang terdapat corak berwarna biru untuk membedakannya dengan Dendrelaphis lainnya. 4.2 Saran Dalam melaksanakan praktikum kali ini diharapkan kepada praktikan untuk lebih teliti dan cermat dalam pemilihan objek. Dalam melakukan pengukuran juga harus lebih teliti agar hasil yang didapatkan lebih akurat serta dalam pelaksanaan praktikum ini sebaiknya pratikan didampingi oleh asisten. DAFTAR PUSTAKA Angga D. 2010. Untung Besar Dari Bisnis Tokek. Yogyakarta: Atma Media Press. Anonymous a. 2011. http ://karantina. deptan. go.id /iasnew/ index. php?option= com_ reales tatemanager&task=view&id=32&catid=81&Itemid=53. Diakses pada 17 Maret 2012. Anonymous b, 2008. http://www.reptilx.com/2008/07/18/manouria-emys-tortoise-care-sheet/. Diakses pada 17 Maret 2012. Anonymous c. 2012. http:// biologi. lipi.go .id/bio _bidang /file_zoo /snake/colubridae _ boiga_cynodon.htm. Diakses pada 31 Maret 2012 Anonymous d, 2012. http:// www.exoreptiles.com/ international/ index. php?main_page= product_info&cPath=4_22_33&products_id=6. Diakses pada 1 April 2012. Aryulina D, Muslim C, Manaf S, Winarni EW. 2004. Biologi SMA dan MA. Jakarta:Erlangga. Bennet, D.1999. Expedition Fieled Tachniques of Reptiland Amphibian. Royal Geografhycal: London Brotowidjojo, M. D. 1995. Zoologi Dasar. Erlangga, Jakarta. Brotowidjoyo.1989. Zoologi Dasar. Erlangga: Jakarta Brown, WC , & AC Alcala (1978). Kadal Filipina Keluarga Gekkonidae . 146. Dumaguete City, Filipina: Silliman University Press. Carr, A.1977. The Reptil he life. Time Books inc Alexandria Cogger HG, Zweifel RG. 2003. Encyclopedia of Reptile and Amphibian. San Fransisco: Frog City Press David, P. & G. Vogel. 1997. The Snakes of Sumatra. An annotated checklist and key with natural history notes. Edition Chimaira. Frankfurt. Djuhanda, T. 1982. Anatomi dari Empat Spesies Hewan Vertebrata. Amico. Bandung Djuhanda, T. 1983. Anatomi dari Empat Spesies Hewan Vertebrata. Amico. Bandung Ernst, CH. Barbour RW. 1989. Turtles of The World. Washington DC: Smithsonian Institutions Press. Goin, C. J and O. B. Goin. 1971. Intoduction to Herpetology. Second edition. WH. Freeman and Company. San fransisco Harrison T. 1961. Niah’s new cave-dweling gecko: habits. Sarawak Mus Jour 8: 277- 282. Iskandar DT. 2000. Kura-kura dan Buaya : Indonesia & Papua Nugini (dengan catatan mengenai Jenis-jenis di Asia Tenggara). Bandung: PAL Media Citra. Iskandar, D. T. 2000. Buaya dan Kura-kura Indonesia. Puslitbang Biologi LIPI. Bogor. Indonesia. Jafnir. 1985. Pengantar Anatomi Hewan Vertebrata. Universitas Andalas : Padang. Jasnin, M. 1992. Zoologi Vertebrata Untuk Perguruan Tinggi. Sinar Wijaya : Surabaya. Kimball, J. W. 1983. Biologi. Erlangga. Jakarta Mattison, C., 2005. Encyclopedia of Reptiles and Amphibians. The Grange Lingsnorth Industrial Estate Hoo, Near Rochester Kent ME3 9ND. McKay JL. 2006. Reptil dan Amphibi di Bali. Krieger: Publishing company. Pope, CH. 1956. The Reptile World. Routledge and Kegal Paul Ltd. London Rhodin, A.G.J. 1994. Chelid turtles of the Australasian Archipelago: II. A new species of Chelodina from Roti Island, Indonesia. Breviora 498: 1-31. Rifai, dkk. 1976. Biologi Perikanan 1. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan. Rodrigues, Maurice. 2003. The Complete Chelonian Taxonomy List World Chelonian Rooij, N. de. 1917. The Reptiles of Indo Australian Archipelago. II. Ophidia. E.J. Brill, Leiden. p. 58-60 Stuebing, R.B. & R.F. Inger. 1999. A Field Guide to The Snakes of Borneo. Natural History Publications (Borneo). Kota Kinabalu. p. 140-141. Susilo, A. B. dan Rahmat P. 2010. Dahsyatnya Bisnis Tokek. Tangerang: PT. Agro Media Pustaka. Trust.http://www.chelonia.org/Turtle_Taxonomy.htm. Diakses tangal 18 Maret 2012. Tweedie, M.W.F. 1983. The Snakes of Malaya. The Singapore National Printers. Singapore. p.63. Van Hoeve UW. 2003. Ensiklopedia Indonesia Seri Fauna Reptil Dan Amfibia. Jakarta: PT Ichtiar Baru. Vogel, A. 1989. Practical Organic Chemistry Fith Edition. Charles University: New York. Weber, M. 1915. The reptilia of The Indo-Australian Archipelago. Amsterdam Xu D, Ji X. 2006. Sexual Dimorphism, Female Reproduction and Egg Incubation in The Oriental leaf-toed gecko (Hemidactylus bowringii) from Southern China. Science Direct 110 : 20-27. Yatim, W. 1985. Biologi jilid II. Tarsito. Bandung Zug, George R. 1993. Herpetology : an Introductory Biology of Ampibians and Reptiles . Academic Press. London, p : 357 – 358.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar