Sains dan Penelitian
semua pengalaman yang didapat akan diceritakan dan di tambah dengan seni seni yang indah
Hadi Addaha
Rabu, 05 Maret 2014
IDENTIFIKASI MORFOLOGI DAN KUNCI DETERMINASI KELAS AMPHIBIA
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Di Indonesia yang berada pada daerah memiliki banyak kehidupan, salah satunya Amphibia. Pambagian ini seperti di Kalimantan dihuni oleh paling sedikit 155 jenis, termasuk kodok primitif yaitu; Borbourula kalimantanensis. Para ahli memperkirakan terdapat sekitar 6000-10000 jenis amphibia di dunia, terdapat 5.359 terbagi atas 3 bangsa: Gymmophiona (Apoda); lebih dikenal dengan sisilia ± 159 jenis. Bangsa ini terdiri dari dua marga yaitu; Caudacaecilia yang terdiri dari empat jenis, tersebar luas di India, Indo-China, Malaysia, Philipina dan Kawasan Indo- nesia bagian barat Sumatera dan Kalimantan. Marga Ichthyophis sekitar 30 jenis tersebar di Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Bangsa ini mempunyai bentuk tubuh seperti cacing dengan kepala dan mata tampak jelas. Aktif pada malam hari dan membutuhkan perairan yang jernih sebagai habitatnya. Jenis ini sulit dijumpai karena hidup di sungai- sungai kecil maupun besar pada stadium larva yaitu ekor masih terdapat bagian tubuh seperti sirip di bagian ekor, dan kemudian akan mereduksi setelah dewasa dan hidup dalam liang-liang tanah. Urodela (Caudata); salamander dan newt ± 400 jenis, anggota jenis tidak terdapat di Indonesia. Daerah terdekat Persebaran salamander adalah Vietnam, Laos dan Thai-land Utara. Anura; katak dan kodok ± 4.800 jenis, lebih dari 500 jenis di antara terdapat di Indonesia. Di Indonesia bangsa ini mempunyai sebaran yang luas dari Sumatera hingga Papua (Boulenger, 1882).
Klasifikasi didefinisikan sebagai cara atau kerangka kerja yang digunakan untuk menemukan pola-pola tertentu dalam suatu keanekaragaman. Kata klasifikasi terkadang disama artikan dengan kata identifikasi yang didefinisikan sebagai kegiatan untuk mengenali spesies atau jenis makhluk hidup. Identifikasi mahluk hidup berarti suatu usaha menemukan identitas suatu mahluk hidup. Identifikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara. cara yang paling pouler yakni dengan membandingkan tumbuhan / hewan yang ingin diketahui dengan gambar didalam buku atau antara tumbuhan dengan material herbarium yang sudah diketahui identitasnya.identifikasi pada hewan dapat dilihat melalui bagian tubuh yang menunjukkan sifat - sifat khusus penunjuk adanya keanekaragam morfologis, antara lain: susunan kulit dan modifikasinya, susunan alat gerak, susunan bagian - bagian tubuh (kepala - badan - ekor) dan modifikasi hubungannya, susunan endoskeleton ,susunan gigi, lubang hidung, susunan alat pendengaran bagian luar, susunan mata, dan lain – lain (Amri, khairul, Khairuman, 2008).
Secara singkat klasifikasi bermanfaat bagi manusia antara lain : Untuk penelitian lebih lanjut sehingga mahluk hidup yang telah dikenal melalui klasifikasi dapat lebih dimanfaatkan. Untuk dipelajari agar dapat melestarikan keanekaragamn hayati di masa mendatang. Untuk mengetahui hubungan antara organisme satu dengan yang lain. Ilmu identifikasi dan klasifikasi sangat berhubungan dengan ilmu morfologi. Oleh karena itu, untuk mengetahui proses-proses yang terjadi mulai dari tahap morfologi, hingga masuk ke tahap identifikasi, dan akhirnya terbentuklah klasifikasi (pengelompokan), diperlukan kegiatan perkuliahan melalui praktikum (Jangkaru, 2004).
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui karakter Amphibia dan parameter yang penting untuk identifikasi dan membuat kunci determinasi dari kelas Amphibi.
1.3 Tinjauan Pustaka
Amfibi seperti kata harfiahnya yaitu; amphi-ganda, bios-hidup artinya adalah hewan yang hidup di dua alam yaitu: air dan darat. Amphibia adalah salah satu hewan bertulang belakang (vertebrata) yang suhu tubuhnya tergantung pada suhu lingkungan atau ectoterm, mempunyai kulit licin dan berkelenjar serta tidak bersisik. Sebagian besar amfibi mempunyai anggota gerak dengan jari-jari. Telurnya tidak bercangkang, dan diletakkan dalam air atau tempat yang lembab untuk menghindari kekeringan (Pough, 1998). Amphibi merupakan hewan dengan kelembaban kulit yang tinggi, tidak tertutupi oleh rambut dan mampu hidup di air maupun di darat. Amphibia berasal dari bahasa Yunani yaitu Amphi yang berarti dua dan Bios yang berarti hidup. Karena itu amphibi diartikan sebagai hewan yang mempunyai dua bentuk kehidupan yaitu di darat dan di air. Pada umumnya, amphibia mempunyai siklus hidup awal di perairan dan siklus hidup kedua adalah di daratan. ( Zug, 1993).
Pada fase berudu amphibi hidup di perairan dan bernafas dengan insang. Pada fase ini berudu bergerak menggunakan ekor. Pada fase dewasa hidup di darat dan bernafas dengan paru-paru. Pada fase dewasa ini amphibi bergerak dengan kaki. Perubahan cara bernafas yang seiring dengan peralihan kehidupan dari perairan ke daratan menyebabkan hilangnya insang dan rangka insang lama kelamaan menghilang. Pada anura, tidak ditemukan leher sebagai mekanisme adaptasi terhadap hidup di dalam liang dan bergerak dengan cara melompat. (Zug, 1993). Bentuk dan ukuran tubuh amfibi sangat beragam. Amfibi misalnya berukuran paling kecil kurang dari 1 cm, dan beberapa jenis mempunyai ukuran lebih dari 50 cm. Amfibi mempunyai daerah persebaran yang sangat luas di dunia, menempati semua benua kecuali Antartika, dapat dijumpai dari dari laut, sungai, darat, tepi pantai, hutan dataran rendah sampai pegunungan, namun demikian bukan berarti setiap jenis amfibi dapat dijumpai di semua tempat. Beberapa jenis amfibi memiliki daerah sebaran yang sempit dan terbatas, kadang hanya dijumpai pada tipe habitat spesifik, sehingga jenis-jenis yang mempunyai habitat spesifik sangat baik digunakan sebagai jenis indikator terjadinya perubahan lingkungan (Inger, Bacon, 1968).
Amphibia memiliki kelopak mata dan kelenjar air mata yang berkembang baik. Pada mata terdapat membrana nictitans yang berfungsi untuk melindungi mata dari debu, kekeringan dan kondisi lain yang menyebabkan kerusakan pada mata. Sistem syaraf mengalami modifikasi seiring dengan perubahan fase hidup. Otak depan menjadi lebih besar dan hemisphaerium cerebri terbagi sempurna. Pada cerebellum konvulasi hampir tidak berkembang. Pada fase dewasa mulai terbentuk kelenjar ludah yang menghasilkan bahan pelembab atau perekat. Walaupun demikian, tidak semua amphibi melalui siklus hidup dari kehidupan perairan ke daratan. Pada beberapa amphibi, misalnya anggota Plethodontidae, tetap tinggal dalam perairan dan tidak menjadi dewasa. Selama hidup tetap dalam fase berudu, bernafas dengan insang dan berkembang biak secara neotoni. Ada beberapa jenis amphibi lain yang sebagian hidupnya berada di daratan, tetapi pada waktu tertentu kembali ke air untuk berkembang biak. Tapi ada juga beberapa jenis yang hanya hidup di darat selama hidupnya. Pada kelompok ini tidak terdapat stadium larva dalam air. (Duellman and Trueb, 1986).
Adapun ciri-ciri umum anggota amphibia adalah sebagai berikut: Memilliki anggota gerak yang secara anamotis pentadactylus, kecuali pada apoda yang anggota geraknya terduksi. Tidak memiliki kuku dan cakar, tetapi ada beberapa anggota amphibia yang pada ujung jarinya mengalami penandukan membentuk kuku dan cakar, contoh Xenopus sp..Kulit memiliki dua kelenjar yaitu kelenjar mukosa dan atau kelenjar berbintil ( biasanya beracun). Pernafasan dengan insang, kulit, paru-paru. Mempunyai sistem pendengaran, yaitu berupa saluran auditory dan dikenal dengan tympanum. Jantung terdiri dari tiga lobi ( 1 ventrikel dan 2 atrium) Mempunyai struktur gigi, yaitu gigi maxilla dan gigi palatum. Merupakan hewan poikiloterm (Duellman and Trueb, 1986). Turun atau hilangnya populasi jenis yang habitat spesifik menandakan adanya perubahan kualitas lingkungan pada lokasi tersebut. Oleh sebab itu jenis amfibi mempunyai habitat spesifik sangat bermanfaat untuk memberikan peringatan dini terjadinya perubahan lingkungan. Secara umum daerah hidup amfibi dibagi tiga yaitu: Pertama, adalah amfibi yang dapat berasosiasi manusia seperti: permukiman, sawah, kolam dan berbagai tipe lain yang dibuat manusia. Paling sedikit ada delapan jenis yang diketahui berasosiasi dengan manusia antara lain: Dutaphrynus melanostictus, Fejervarya cancrivora, Fejervarya limnocharis, Rana erythraea, Rana nicobariensis, Kaloula baleata, K. pulchra dan Polypedates leucomystax. Jenis lainnya merupakan amfibi yang tinggal hutan primer maupun hutan sekunder (Inger dan Stuebing, 2005). Kedua, adalah amfibi yang terdapat di daerah peralihan antara hutan dan permukiman seperti; Bufo divergens, Bufo qaudriporcatus, Rana picturata, Leptomantis appendiculatus, Rhacophorus pardalis, Rhacophorus nigropalmatus. Ketiga, secara umum amfibi menempati habitat hutan primer (Iskandar, 1998).
Kelas amfibi terdiri dari tiga bangsa yaitu: Pertama, Caudata atau salamander merupakan, satu-satunya amfibi yang tidak terdapat di Indonesia. Daerah terdekat yang di huni sala- mander adalah Vietnam, Laos dan Thailand Utara. Kedua, Gymnophiona atau sesilia, adalah amfibi seperti cacing, kepala dan mata yang tanpak jelas. Ketiga, Anura yang paling umum dijumpai dan dikenal dengan nama katak atau kodok. Di Kalimantan bangsa ini terdiri dari tujuh family yaitu: Bombinatoridae, Megophryidae, Bufonidae, Microhylidae, Dicroglossidae, Rhacophoridae dan Ranidae (Iskandar and Colijn, 2000).
Famili Megophryidae merupakan kelompok katak serasah, terdiri dari empat marga yaitu: Leptobrachella, Leptobrachium, Leptolalax, dan Megophrys. Walaupun demikian, diyakini masih terdapat marga dan anggota jenis yang akan dijumpai, jika pencarian dilakukan pada habitat yang lebih baik dan waktu yang tepat (Delorme, Dubois,Grosjean, Ohlear, 2006). Famili Bufonidae beranggotakan enam marga di Borneo yaitu; Ansonia, Bufo, Leptophryne, Pedostibes, Pelophryne, dan Pseudobufo. Empat marga di antaranya yaitu: Ansonia, Bufo, Pedostibes, dan Pseudobufo. Semua anggota famili ini dicirikan oleh kulit berbintil-bintil dipermukaan anggota tubuhnya (Eprilurahman, 2007). Dicroglossida ini merupakan katak dengan anggota jenis berbentuk gemuk, otot kaki belakang besar dan kuat dan kakinya umumnya dengan ujung jari yang membulat, jarang sekali dengan pelebaran ujung jari. Sedikitnya empat marga terdapat di Kalimantan yaitu: Fejervarya, Limnonectes, Occidozyga. Famili Ranidae ini merupakan katak dengan anggota jenis cukup banyak, sedikitnya empat marga terdapat di Kalimantan yaitu: Huia, Meristogenys, Rana, Staurois. Kelompok Katak Pohon dengan anggota empat marga yaitu: Nyctixalus, Philautus, Polypedates, Rhacophorus (Inger, Stuebing, Tan, 1995).
Nama anura mempunyai arti tidak memiliki ekor. Seperti namanya, anggota ordo ini mempunyai ciri umum tidak mempunyai ekor, kepala bersatu dengan badan, tidak mempunyai leher dan tungkai berkembang baik. Tungkai belakang lebih besar daripada tungkai depan. Hal ini mendukung pergerakannya yaitu dengan melompat. Pada beberapa famili terdapat selaput diantara jari-jarinya. Membrana tympanum terletak di permukaan kulit dengan ukuran yang cukup besar dan terletak di belakang mata. Kelopak mata dapat digerakkan. Mata berukuran besar dan berkembang dengan baik. Fertilisasi secara eksternal dan prosesnya dilakukan di perairan yang tenang dan dangkal. Ordo Anura dibagi menjadi 27 famili, yaitu: Ascaphidae, Leiopelmatidae, Bombinatoridae Discoglossidae, Pipidae, Rhinophrynidae, Megophryidae, Pelodytidae, Pelobatidae, Allophrynidae, Bufonidae, Branchycephalidae, Centrolenidae, Heleophrynidae, Hylidae, Leptodactylidae, Myobatrachidae, Pseudidae, Rhinodermatidae, Sooglossidae, Arthroleptidae, Dendrobatidae, Hemisotidae, Hyperoliidae, Microhylidae, Ranidae, Rachoporidae, ( Pough et. al.,1998)
Ada 5 Famili yang terdapat di indonesia yaitu Bufonidae, Megophryidae, Ranidae, Microhylidae dan Rachoporidae. Adapun penjelasan mengenai kelima famili tersebut adalah: Bufonidae. Famili ini sering disebut kodok sejati. Ciri-siri umumnya yaitu kulit kasar dan berbintil, terdapat kelenjar paratoid di belakang tympanum dan terdapat pematang di kepala. Mempunyai tipe gelang bahu arciferal. Sacral diapophisis melebar. Bufo mempunyai mulut yang lebar akan tetapi tidak memiliki gigi. Tungkai belakang lebih panjang dari pada tungkai depan dan jari-jari tidak mempunyai selaput. Fertilisasi berlangsung secara eksternal. Famili ini terdiri dari 18 genera dan kurang lebih 300 spesies. Beberapa contoh famili Bufo yang ada di Indonesia antara lain: Bufo asper, Bufo biporcatus, Bufo melanosticus dan Leptophryne borbonica ( Pough et. al.,1998).
Megophryidae. Ciri khas yang paling menonjol adalah terdapatnya bangunan seperti tanduk di atas matanya, yang merupakan modifikasi dari kelopak matanya. Pada umumnya famili ini berukuran tubuh kecil. Tungkai relatif pendek sehingga pergerakannya lambat dan kurang lincah. Gelang bahu bertipe firmisternal. Hidup di hutan dataran tinggi. Pada fase berudu terdapat alat mulut seperti mangkuk untuk mencari makan di permukaan air. Adapun contoh spesies anggota famili ini adalah Megophrys Montana, Megophrys paralella, Megophrys acera, Leptobranchium abbotti dan Leptobranchium hasselti. Famili Ranidae ini sering disebut juga katak sejati. Bentuk tubuhnya relatif ramping. Tungkai relatif panjang dan diantara jari-jarinya terdapat selaput untuk membantu berenang. Kulitnya halus, licin dan ada beberapa yang berbintil. Gelang bahu bertipe firmisternal. Pada kepala tidak ada pematang seperti pada Bufo. Mulutnya lebar dan terdapat gigi seperti parut di bagian maxillanya. Sacral diapophysis gilig. Fertilisasi secara eksternal dan bersifat ovipar. Famili ini terdiri dari 36 genus. Adapun contoh spesiesnya adalah: Rana chalconota, Rana hosii, Rana erythraea, Rana nicobariensis, Fejervarya cancrivora, Fejervarya limnocharis, Limnonectes kuhli, Occidozyga sumatrana. (Eprilurahman, 2007)
Famili Microhylidae ini anggotanya berukuran kecil, sekitar 8-100 mm. Kaki relatif panjang dibandingkan dengan tubuhnya. Terdapat gigi pada maxilla dan mandibulanya, tapi beberapa genus tidak mempunyai gigi. Karena anggota famili ini diurnal, maka pupilnya memanjang secara horizontal. Gelang bahunya firmisternal. Contoh spesiesnya adalah: Microhyla achatina, Kalophrynus pleurostigma, Kaloula baleata, Metaphrynella pollicaris, Metaphrynella sundana, Microhyla superciliaris, Phrynella pulchra. Famili Rachoporidae ini sering ditemukan di areal sawah. Beberapa jenis mempunyai kulit yang kasar, tapi kebanyakan halus juga berbintil. Tipe gelang bahu firmisternal. Pada maksila terdapat gigi seperti parut. Terdapat pula gigi palatum. Sacral diapophysis gilig. Berkembang biak dengan ovipar dan fertilisasi secara eksternal. Contoh spesies dari family ini adalah Polypedates leucomystax, Nyctixalus pictus, Philautus aurifasciatus, Philautus cornutus, Polypedates macrotis, Polypedates otilophus, Rhacophorus achantharrhena, Rhacophorus angulirostris, Rhacophorus bifasciatus (Eprilurahman, 2007)
II. PELAKSANAAN PRATIKUM
2.1 Waktu dan Tempat
Pratikum Morfologi dan Identifikasi Kelas Amphibia ini dilaksanakan pada Hari Kamis, 23 Februari dan 1 Maret 2012 bertempat di Laboratorium Pendidikan II, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang.
2.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah Bak bedah, vernier caliper, timbangan, alat tulis. Sedangkan bahan yang digunakan adalah Phrynoidis asper, Dutaphrynus melanostictus, Megophrys nasuta, Leptobrachium abbotti, Ichthyophis glutinosus, Fejervarya cancrivora, Fejervarya limnocharis, Limnonectes kuhlii, Limnonectes blythii, Rana erythraea, Rana nicobariensis, Rana picturata, Polypedates leucomystax.
2.3 Cara Kerja
Diletakkan Katak atau Kodok pada bak bedah dengan posisi kepala ke kiri. Diamati, digambar, difoto dan dilakukan pengukuran serta penghitungan terhadap setiap parameter Amphibi tersebut. Lalu dicatat data yang diperoleh dalam data tabel yang diberikan oleh asisten. Parameter yang diamati berupa: berat, pajang badan, lebar kepala, panjang kepala, panjang tibia fibula, panjang femur, panjang kaki belakang, panjang moncong, diameter tympanum, diameter mata, jarak inter orbital, jarak inter nares, urutan panjang jari kaki depan, urutan panjang jari kaki belakang, alur supra orbital, bentuk kelenjat paratoid, gigi fomer, tutupan selaput renang, lipatan dorso lateral, warna, bentuk ujung jari. Setelah semua data diperoleh, maka dibuat kunci determinasi dari semua spesies yang ada.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Identifikasi
3.1.1 Phrynoidis asper
Klasifikasi hewan ini menurut Inger, Stuebing, and Tan (1995) adalah:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Bufonidae
Genus : Phrynoidis
Species : Phrynoidis asper Gravenhorst, 1829
Gambar 1. Phrynoidis asper
Hewan ini memiliki ciri ciri: pajang badan 100mm, lebar kepala 30 mm, panjang kepala 40 mm,panjang kaki depan 65mm, panjang tibia fibula 45mm, panjang femur 45mm, panjang kaki belakang 110mm, panjang moncong 35, diameter tympanum 5mm, diameter mata 10mm, jarak inter orbital 15mm, jarak inter nares 7mm, urutan panjang jari kaki depan 3>4>1>2, urutan panjang jari kaki belakang 4>3>5>2>1, bentuk kelenjat paratoid lonjong, tutupan selaput renang ada pada kaki belakang, lipatan dorso tactorial ada, warna coklat kehitaman, bentuk ujung jari licin.
Kodok ini berwarna coklat tua kehitaman, keabu-abuan, atau kehitam-hitaman. Kelenjar parotoid berbentuk lonjong. Tangan dan kaki dapat berputar. Jari kaki berselaput renang sampai ke ujung. Perkembangbiakkan masih belum diketahui. Namun para pejantan diketahui memanggil dari tepi sungai terutama pada saat bulan purnama. Habitat Phrynoidis asper umumnya dijumpai sepanjang sungai yang lebar sampai anak sungai dengan lebar 2 meter. Bahkan dijumpai di sekitar air terjun, hidup dari hutan skunder sampai hutan primer, hutan dataran rendah sampai pegunungan (Van Kampen, 1923).
Pada praktikum ini didapatkan Phrynoidis asper dengan ukuran yang besar, saat dipegang kodok ini mengeluarkan racun berwarna putih dari kelennjar paratoidnya. Totol- totol yang tidak beraturan membuat katak ini buruk untuk dilihat. Warna dari kodok ini juga sangat gelap. Racun yang dikeluarkan juga sangat berbau, dan mematikan jenis katak dan kodok lain, bahkan juga mematikan jenisnya sendiri.
3.1.2 Dutaphrynus melanostictus
Klasifikasi hewan ini menurut Inger, Stuebing, and Tan (1995)
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Phrynoidisnidae
Genus : Duttaphrynus
Species : Dutaphrynus melanostictus Scheneider, 1799
Gambar 2. Dutaphrynus melanostictus
Data yang didapat dari hewan ini adalah: pajang badan 60mm, lebar kepala 22mm, panjang kepala 19mm, panjang kaki depan 30mm, panjang tibia fibula 30mm, panjang femur 20mm, panjang kaki belakang 45mm, panjang moncong 22mm, diameter tympanum 5mm, diameter mata 10mm, jarak inter orbital 20mm, jarak inter nares5mm, urutan panjang jari kaki depan 3>1>2>4, urutan panjang jari kaki belakang 4>3>2>5>1, tutupan selaput renang tidak ada, bentuk ujung jari licin.
Kepala dengan rostral berbeda, preorbital, supraorbital, postorbital dan orbito-timpani pendek, puncak tengkorak, tidak ada ridge sementara; ruang interorbital jauh lebih luas dari kelopak mata atas; timpanum sangat berbeda, setidaknya dua pertiga diameter mata; jari pertama umumnya tetapi tidak selalu melampaui kedua; subarticular ganda tuberkel hanya di bawah jari ketiga. Jari kaki dengan single subarticular tuberkulum; elipticle parotis, dengan coklat tua tersebar percabangan konkret, kulit sangat tuberculated pada panggul, tuberkel biasanya berujung dengan duri coklat tua, sebuah punggung lateral yang terhuyung deretan 8-9 tuberkel membesar; kranial puncak, bibir, kiat-kiat angka, tuberkel metakarpal dan metatarsal yang cornified dengan coklat tua, yang cenderung gemuruh dari dalam spesimen yang diawetkan; kepala hampir halus (Khan, 1991).
Pada prakrikum ini kodok yang terkenal dengan nama Dutaphrynus melanostictus ini memiliki warna yang terang, tetapi memiliki totol-totol pada tubuh atasnya yang membuat kodok ini menjadi tidak menarik. Totol-totol ini tersusun rapi, sehingga menarik untuk dilihat. Sama dengan semua jenis kodok, kodok ini juga memiliki kelenjar paratoid, yang mengandung racun. Racun dari Dutaphrynus melanostictus ini tidak seberbahaya dari Phrynoidis asper. Ciri khas dari Phrynoidis ini adalah alur supra orbital yang sangat jelas terlihat dimata hewan ini.
3.1.3 Megophrys nasuta
Klasifikasi hewan ini menurut Delorme, Dubois, Grosjean, and Ohler (2006) adalah
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Megophryidae
Genus : Megophrys
Species : Megophrys nasuta Schlegel, 1858
Gambar 3. Megophrys nasuta
Deskripsi dari hewan ini berupa pajang badan 85mm, lebar kepala 31mm, panjang kepala 35mm, panjang kaki depan 50mm, panjang tibia fibula 60mm, panjang femur 30mm, panjang kaki belakang 95mm, panjang moncong 35, diameter mata 10mm, jarak inter orbital 30mm, jarak inter nares 3mm, urutan panjang jari kaki depan 3>1>4>2, urutan panjang jari kaki belakang 4>3>5>2>1, warna sama dengan sarasah, bentuk ujung jari licin.
Megophrys nasuta, spesies ini umumnya tersebar di asia, hewan ini memiliki bentuk yang sangat mirip dengan sarasah sebagai habitat hidupnya. Hewan ini memiliki ukuran yang mencapai 110 mm bagi betinanya, dan 95 mm bagi jantannya. Hewan ini memiliki kelopak mata yang berlebih dari bola matanya, sehingga hewan ini seolah olah memiliki tanduk. hewan ini memiliki bentuk tubuh yang membulat, dan terlihat seperti gemuk (Lathrop, 2003).
Pada praktikum ini katak Megophrys nasuta yang didapatkan memiliki ukuran yang cukup besar, dengan tanduk yang tarlihat jelas. Tanduk ini merupakan modifikasi dari kelopak mata hewan ini. Warna hewan ini hampir sama dengan warna serasah yaitu kuning kecoklatan. Hal ini membuat hewan ini sangat sulit untuk ditemukan oleh pemangsanya. Hewaqn ini didapatkan didaerah serasah yang lembab.
3.1.4. Leptobrachium abbotti
Klasifikasi kotak ini menurut Delorme, Dubois, Grosjean, and Ohler ,2006 adalah
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Megophryidae
Genus : Leptobrachium
Species : Leptobrachium abbotti Cocharn, 1926
Gambar 4. Leptobrachium abbotti
Spesies ini memiliki pajang badan 70mm, lebar kepala 35mm, panjang kepala 30mm, panjang kaki depan 50mm, panjang tibia fibula 60, panjang femur 25mm, panjang kaki belakangn 75mm, panjang moncong 30mm, diameter tympanum 5mm, diameter mata 10mm, jarak inter orbital 20mm, jarak inter nares 5mm, urutan panjang jari kaki depan 3>1>4>2, urutan panjang jari kaki belakang 3>1>4>2>5, warna hitam seperti tanah, bentuk ujung jari licin.
Seekor katak, gempal dengan kepala lebar, mata besar, pendek, kaki yang jenjang dan kaki tanpa anyaman. Pria mencapai 75 mm SVL dengan perempuan hingga 95 mm SVL. Kepala, punggung, dan sisi yang berwarna cokelat atau hitam saat perut ditandai dengan bintik putih dan hitam. Individu dari Sarawak mungkin memiliki perut abu-abu atau putih tanpa tanda . Para berudu besar dapat mencapai panjang 75-90 mm pada saat mereka bermetamorfosis. Berudu adalah coklat pucat atau jerami berwarna awalnya, namun secara bertahap gelap sampai coklat sedang. Seiring waktu, berudu mengembangkan flek hitam di ekor dan tubuh mereka, dengan bercak hitam selalu hadir di persimpangan batang dan ekor (Inger dan Stuebing, 1997).
Pada praktikum ini didapatkan Leptobrachium abbotti dengan ukurang yang cukup besar. Hewan ini mengeluarkan lendirnya saat berada dalam ancaman. Lender ini sangat lengket dan juga mengandung racun yang berbahaya bagi musuh musuhnya. Hewan ini memiliki kaki depan dan kaki belakang yang panjang. Hewan ini juga erring terlihat berjalan dari pada melompat. Hewan ini sangat hebat bersembunyi dan berkaboplkase dengan lingkungan tempat hidupnya. Hewan ini sangat lambat, sehingga sering saat tertangkap hewan ini sedang digerogoti oleh lintah hutan.
3.1.5. Ichthyophis glutinosus
Klasifikasi hewan ini menurut Boulenger, 1882
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo : Cecillia
Family : Icthiopydae
Genus : Ichthyophis
Species : Ichthyophis glutinosus Linnaeus, 1758
Gambar 5. Ichthyophis glutinosus
Ichthyophis glutinosus adalah salah satu spesies dari ordo cecillia yang terdapat di Indonesia. Hewan ini seperti cacing, dengan kepala yang keras. Hewan ini sanagt jarang terlihat, karena bersifat hidup didalam tanah. Hewan ini memiliki tanpa kaki, membedakan kepala dengan ekor sanagt sulit. Hewan ini memiliki ciri khas yaitu pada bagian bawah tubuhnya berwarna kuning. Indra penglihatan hewan ini tidak berkembang. Hewan ini banyak pada daerah tropis. Di Indonesia ditemukan 3 spesies dari ordo yang sama dengan hewan ini (Boulenger, 1882).
Pada praktikum ini Ichthyophis glutinosus yang digunakan adalah sampel awetan. Jadi pengamatan yang bias dilakukan hanya mengamati warna yang memudar dan bentuk yang sepeeti cacing. Hewan ini sangat sulit untuk ditemukan.sampel ini tidak bisa dihitung karena sampel yang sedikit dan tidak bisa dikeluarkan begitu saja.
3.1.6 Fejervarya cancrivora
Klasifikasi hewan ini menurut Nguyen, Ho (2005) adalah:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Ranidae
Genus : Fejervarya
Species : Fejervarya cancrivora Gravenhorst, 1829
Gambar 6. Fejervarya cancrivora
Spesies ini memiliki pajang badan 65mm, lebar kepala 20mm, panjang kepala 25mm, panjang kaki depan 35mm, panjang tibia fibula 25, panjang femur 30mm, panjang kaki belakangn 43mm, panjang moncong 28mm, diameter tympanum 4mm, diameter mata 5mm, jarak inter orbital 4mm, jarak inter nares 5mm, urutan panjang jari kaki depan 3>1>4>2, urutan panjang jari kaki belakang 4>3>2>5>1, warna coklat dengan bintik bintik hitam, bentuk ujung jari licin.
Hewan ini merupakan Katak payau Asia, Katak Mangrove. Katak ini ditemukan di lingkungan buatan manusia seperti sawah padi. Umumnya, terjadi pada hutan mangrove, habitat muara, rawa dan terbuka, daerah pesisir basah, seperti selokan pinggir jalan dan juga tumbuh subur di lingkungan buatan manusia. Hal ini dapat ditemukan dari permukaan laut sampai 1500 meter dpl. Hal ini toleran terhadap salinitas sedang. Itu umum untuk melimpah di habitat yang cocok di enam lokasi survei. Ini adalah katak luas. Hal ini diketahui dari pesisir selatan Tiongkok di Propinsi Guangxi dan Hainan, dari Pulau Nikobar Besar di India, dan dari sebagian besar negara di Asia Tenggara termasuk Filipina. Di New Guinea, populasi diperkenalkan dikenal dari Sorong, Manokwari, Nabire dan daerah Jayapura Papua, Indonesia (Nguyen, Ho, 2005).
Pada praktikum ini dibawa Fejervarya cancrivora yang biasa disebut dengan katak sawah, katak ini memilki warna coklat, dengan ukuran sekitar 6 cm, dengan garis garis berwarna putih dipunggungnya. Katak ini memiliki selaput renang yang penuh pada jari kakinya, yang merupakan pembedanya dengan katak sawah lainnya. Katak ini biasanya hidup pada daerah yang bersih dari zat zat pestisidan.
3.1.7 Fejervarya limnocharis
Klasifikasi hewan ini menurut Maeda and Matsui (1990) adalah:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Ranidae
Genus : Fejervarya
Species : Fejervarya limnocharis Gravenhorst, 1829
Gambar 7. Fejervarya limnocharis
Spesies ini memiliki pajang badan 45mm, lebar kepala 18mm, panjang kepala 18mm, panjang kaki depan 18mm, panjang tibia fibula 25, panjang femur 20mm, panjang kaki belakangn 35mm, panjang moncong 18mm, diameter tympanum 2mm, diameter mata 5mm, jarak inter orbital 4mm, jarak inter nares 3mm, urutan panjang jari kaki depan 3>1>4>2, urutan panjang jari kaki belakang 4>3>5>2>1, warna hitam seperti tanah, bentuk ujung jari licin.
Katak ini hidup pada tipe habitat yang paling basah terbuka, termasuk dataran lembab, daerah pertanian basah seperti padi sawah, selokan dan rawa-rawa, tetapi jarang ditemukan pada lantai hutan. Hal ini ditemukan dari permukaan laut hingga 2000 meter dpl. Spesies ini tersebar luas di seluruh sebagian besar Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk pulau-pulau di Indonesia, Filipina, Phuket dan Singapura dan juga ditemukan di bagian utara, tengah, selatan dan southwe buritan Cina (termasuk Taiwan, Hong Kong dan Makau). Hal ini didistribusikan di Jepang barat, di bagian barat Honshu, Shikoku dan Kyushu dan Kabupaten Kepulauan Nansei (Maeda and Matsui, 1990).
Pada praktikum ini katak ini dibawa bersamaan dengan Fejervarya cancrivora, tetapi katak ini hanya memiliki selaput renang yang setengah dari jari kaki belakang katak ini. Jika dibandingkan dengan ukuran, katak ini memiliki ukuran yang lebih besar dari katak sawah jenis satu lagi.
3.1.8 Limnonectes kuhlii
Klasifikasi hewan ini menurut Frank and Ramus (1995) adalah:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Ranidae
Genus : Limnonectes
Species : Limnonectes kuhlii Tschudi, 1838
Gambar 7. Limnonectes kuhlii
Spesies ini memiliki pajang badan 60mm, lebar kepala 25mm, panjang kepala 22mm, panjang kaki depan 40mm, panjang tibia fibula 20, panjang femur 25mm, panjang kaki belakangn 45mm, panjang moncong 25mm, diameter mata 10mm, jarak inter orbital 5mm, jarak inter nares 3mm, urutan panjang jari kaki depan 3>1>4>2, urutan panjang jari kaki belakang 4>3>5>2>1, warna hitam seperti tanah, bentuk ujung jari licin.
Saat itu ditemukan di sungai jelas bergerak lambat atau genangan air di hutan hujan primer, hutan tepi dan tanah rawa, tetapi tidak ditemukan pada daerah terbuka, dan di dalam perkebunan. Ini terjadi 150- 1400 meter dpl. Katak ini ditemukan di selatan Yunnan dan provinsi Guangxi, Cina, di dua daerah kecil di India timur laut (di Arunachal Pradesh), dan seluruh Asia Tenggara selatan ke Jawa, Kalimantan, Kepulauan Anambas dan Kepulauan Natunas, tetapi belum dicatat dari Kamboja atau Singapore (Frank and Ramus. 1995).
Pada praktikum ini katak Limnonectes kuhlii ini merupakan salah satu jenis katak sungai yang banyak dan mudah beradaptasi. Katak ini memiliki tympanum, tetapi tidak terlihat dengan jelas, hal ini yang membedakan katak ini dengan katak sungai lainnya. Katak ini terlihat seperti memiliki totol,tetapi katak memilki tubuh yang licin. Tubuh katak ini juga mengeluarkan lender untuk menjaga suhu tubuhya.
3.1.9 Limnonectes blythii
Klasifikasi hewan ini menurut Frank and Ramus (1995) adalah:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Ranidae
Genus : Limnonectes
Species : Limnonectes blythii Boulenger, 1920
Gambar 9. Limnonectes blythii
Spesies ini memiliki pajang badan 60mm, lebar kepala 35mm, panjang kepala 43mm, panjang kaki depan 45mm, panjang tibia fibula 50, panjang femur 45mm, panjang kaki belakangn 65mm, panjang moncong 25mm, diameter tympanum 5mm, diameter mata 11mm, jarak inter orbital 9mm, jarak inter nares 6mm, urutan panjang jari kaki depan 1>3>4>2, urutan panjang jari kaki belakang 4>5>3>2>1, warna coklat tua, bentuk ujung jari gada.
Katak ini mendiami serak dan sungai batu di hutan primer, namun ditemukan di hutan sekunder untuk terdegradasi berat. Katak ini memiliki warna kemerahan pada punggungnya. Katak jantan akan membangun ruang berongga di daerah berpasir sebagai tempat telur akan diletakkan oleh betina. Katak ini dapat hidup pada ketinggian sampai 1200 meter dpl. Jenis ini tersebar luas di Asia Tenggara, dari Vietnam dan Laos, ke Thailand dan Semenanjung Malaysia, Singapura dan Sumatera, Kepulauan Anambas dan Kepulauan Natuna (Indonesia). Hewan ini juga hadir di pulau Phuket, Langkawi, Penang dan Tioman. Anehnya, tidak ditemukan dari Pegunungan Cardamom di Kamboja (Frank and Ramus, 1995).
Katak ini juga merupakan katak yang biasa hidup didekat sungai, katak ini memiliki ukuran yang jauh lebih besar dari Limnonectes kuhlii. Katak ini memiliki ukuran yang sampai 1 meter. Katak ini biasa desibut dengan katak bobo. Perbedaan lain katak ini dengan Limnonectes kuhlii adalah tympanum katak ini besar dan terlihat sangat jelas.
3.1.10 Rana erythraea
Klasifikasi hewan ini menurut Inger dan Greenberg (1963) adalah:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Ranidae
Genus : Rana
Species : Rana erythraea Schlegel, 1837
Gambar 11. Rana erythraea
Spesies ini memiliki pajang badan 70mm, lebar kepala 22mm, panjang kepala 25mm, panjang kaki depan 40mm, panjang tibia fibula 40, panjang femur 30m, panjang kaki belakangn 45mm, panjang moncong 30mm, diameter tympanum 5mm, diameter mata 8mm, jarak inter orbital 10mm, jarak inter nares 5mm, urutan panjang jari kaki depan 3>1>4>2, urutan panjang jari kaki belakang 4>5>3>2>, warna hijau, bentuk ujung jari disk yang tidak begitu jelas.
Rana erythraea secara seksual dimorfik, dengan betina dewasa mencapai ukuran maksimum 78 mm, dan jantan mencapai maksimum 48 mm. Pewarnaan punggung bervariasi dari terang ke hijau gelap dan sisi ventral umumnya keputihan. Rana erythraea memiliki warna krem pada lipatan dorso-lateral yang terkadang berbatasan dengan hitam. Tungkai yang kekuningan dengan bercak tidak teratur. Spesies ini memiliki kulit halus, dan panjang, jari bebas yang membesar ke dalam cakram dengan alur. Spesies ini memiliki hindlimbs panjang. Tuberkulum metatarsal dalam, tapi tuberkulum metatarsal luar tidak ada. Jantan jauh lebih kecil dari pada betina, dan jantan dewasa berkembang biak memiliki bantalan beludru pernikahan kuning pada jari pertama, membentang dari pergelangan tangan untuk akhir metakarpal pertama (Inger dan Greenberg 1963).
Pada praktikum ini salah satu spesies dari family Ranidae yang dibawa adalah Rana erythraea atau biasa disebut dengan katak hijau. Katak ini biasanya ditemukan disekitar kolam. Katak ini merupakan katak yang paling dicari, karena mampu digunakan sebagai obat untuk beberapa penyakit. Saat ditangkap katak ini akan mengeluarkan lender yang mematikan bagi jenis lainnya. Saat ini katak hijau ini telah sulut ditemukan, hanya pada sekitar kolam yang jarang terjarah oleh tangan manusia.
3.1.11 Rana nicobariensis
Klasifikasi katak ini menurut Chan-ard (2003) adalah:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Ranidae
Genus : Rana
Species : Rana nicobariensis Stoliczka, 1870
Gambar 12. Rana nicobariensis
Spesies ini memiliki pajang badan 40mm, lebar kepala 1mm, panjang kepala 15mm, panjang kaki depan 30mm, panjang tibia fibula 25, panjang femur 22mm, panjang kaki belakangn 35mm, panjang moncong 18mm, diameter tympanum 5mm, diameter mata 5mm, jarak inter orbital 5mm, jarak inter nares 4mm, urutan panjang jari kaki depan 3>1>2>4, urutan panjang jari kaki belakang 4>5>3>2>1, warna coklat gelap, bentuk ujung jari disk.
Hewan ini biasanya ditemukan di habitat yang rusak termasuk hutan sekunder pertumbuhan vegetasi dan habitat manusia-diubah seperti rumput atau semak, sawah dan tambak, tetapi juga ditemukan di kota-kota, kota dan jalan logging. Hewan ini dapat hidup sampai ketinggian 1500 meter dpl. Katak itu biasa untuk melimpah di habitat yang cocok yang seperti sawah, tambak dan rawa air tawar. Spesies ini tersebar luas di Asia Tenggara. Hewan ini tersebar secara luas di Borneo, Sumatra, Jawa dan Bali. Di Filipina, itu hanya terjadi di pulau Palawan, Balabac dan Sibutu. Katak ini juga dikenal dengan Great Nicobar dan Mobil Nikobar di India (Chan-ard, 2003).
Pada praktikum ini terlihat bahwa katak ini pada umumnya berukuran kecilo walau telah pada usia dewasa. katak ini sangat lincah dengan ukuran kaki yang cukup panjang. Katak ini memiliki suara yang besar walaupun tubuh katak ini kecil, sehingga katak ini sulit ditemukan saat dicari. Katak ini umumnya hidup ditepi kolam yang tenang, dan sering menjadi santapan dari pemangsanya.
3.1.12 Rana picturata
Klasifikasi katak ini menurut Robert Inger, Djoko Iskandar, Peter Paul van Dijk, Norsham Yaakob (2004) adalah:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Ranidae
Genus : Rana
Species : Rana picturata Boulenger, 1920
Gambar 13. Rana picturata
Spesies ini memiliki pajang badan 45mm, lebar kepala 13mm, panjang kepala 18mm, panjang kaki depan 32mm, panjang tibia fibula 22, panjang femur 20mm, panjang kaki belakangn 70mm, panjang moncong 5mm, diameter tympanum 5mm, diameter mata 8mm, jarak inter orbital 5mm, jarak inter nares 4mm, urutan panjang jari kaki depan 3>1>4>2, urutan panjang jari kaki belakang 4>3>5>2>1, warna hitam seperti tanah, bentuk ujung jari licin.
Katak tersebut ditemukan di aliran sungai di hutan hujan primer dan sedikit terganggu, namun juga ditemukan di sepanjang aliran yang bergerak cepat yang berada di kawasan hutan terdegradasi. Dapat ditemukan antara 200 sampai 600 meter dpl. Spesies ini telah tersebar pada berbagai daerah di seluruh Kalimantan dan Sumatra (Robert Inger, Djoko Iskandar, Peter Paul van Dijk, Norsham Yaakob 2004).
Pada praktikum ini didapatkan Rana picturata dengan ukuran yang tidak terlalu besar, katak ini memiliki warna dasar hitam dengan biontik bintik merah di seluruh tubuhnya, pada garis dorsoventralnya memiliki warna merah yang terpitus putus. Warna inilah yang membedakan karak ini dengan Rana signata yang memiliki wana merah yang tidak putus pada bagian tersebut. Katak ini juga memiliki tympanum yang gelap, dan terlihat jelas berbeda dengan bagian tubuh lainnya.
3.1.13 Polypedates leucomystax
Klasifikasi hewan ini menurut Kelaart (1853) adalah:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Rhacophoridae
Genus : Polypedates
Species : Polypedates leucomystax Gravenhorst, 1829
Gambar 14. Polypedates leucomystax
Spesies ini memiliki pajang badan 75mm, lebar kepala 25mm, panjang kepala 25mm, panjang kaki depan 40mm, panjang tibia fibula 35, panjang femur 33mm, panjang kaki belakangn 45mm, panjang moncong 25mm, diameter tympanum 5mm, diameter mata 7mm, jarak inter orbital 10mm, jarak inter nares 3mm, urutan panjang jari kaki depan 3>4>1>2, urutan panjang jari kaki belakang 3>5>4>2>1, warna kuning, bentuk ujung jari disk.
Ukuran dewasa sampai 50 mm pada jantan, 70 mm moncong-lubang panjang pada betina. Dengan warna kuning ringan sampai pertengahan coklat dengan empat baris (dalam sebagian besar individu) pada sisi. Hal ini mirip dengan Polypedates macrotis, tetapi sedikit berbeda dalam warna dan proporsi. Telur yang disimpan dalam sarang busa. Sarang biasanya di permukaan genangan air, yang melekat pada vegetasi atau ranting. Berudu abu-abu-hijau sampai diatas coklat. Mata jauh lateral, basis ekor bergaris dengan pigmen horizontal yang berbatasan atas dengan garis pigmen gratis. Pada bagian bawah adalah putih keperakan termasuk spiraculum dan pipi lateral (hampir mencapai mata). Berudu tumbuh hingga 40-50 mm panjang total. Sirip ekor secara sempit meruncing, membentuk sebuah flagel (Kelaart, 1853).
Pada praktikum ini spesies katak pohon (Rhacophoridae) yang dibawa dari adalah Polypedates leucomystax, dengan warna kuning, pada bagian ujung jari katak ini terdapat disk, yaitu tonjolan yang digunakan untuk menempel pada tempat hidup seperti kayu, dan lainnya. Selain itu, disk juga membantu untuk menempel pada sudut 90o. katak ini dapat ditemukan disekitar air yang tenang, seperti kolam. Katak inio juga cepat beradaptasi dengan lingkungan manusia.
3.2 Kunci Determinasi
1. a) memiliki kaki 2
b) tidak memiliki kaki Ichthyophis glutinosus
2. a) tubuh memiliki tubercle 3
b. tubuh tidak memiliki tubercle 4
3. a) memiliki alur supra orbital yang jelas Dutaphrynus melanostictus
b) tidak memiliki alur supra orbital yang jelas Phrynoidis asper
4. a) berkamuflase dengan daun serasah 5
b) tidak berkamuflase dengan daun serasah 6
5. a) memiliki tonjolan seperti tanduk dikepala Megophrys nasuta
b) tidak memiliki tonjolan seperti tanduk dikepala Leptobrachium abbotti
6. a) memiliki disc pada ujung jari 7
b) tidak memiliki disc pada ujung jari 9
7. a) biasa hidup diatas pohon Polypedates leucomystax
b) tidak biasa hidup di atas pohon 8
8. a) membran tympanum berwarna hitam Rana nicobariensis
b) membran tympanum tidak berwarna hitam Rana erythrea
9. a) memiliki Prosesus odontoid 10
b) tidak memiliki Prosesus odontoid 11
10. a) Membran tympanum jelas……………………………. Limnonectes blythii
b. Membran tympanum tidak jelas ……………………... Limnonectes kuhlii
11.a) memiliki fejervarya line 12
b) tidak memiliki fejervarya line Rana picturata
12. a) webbing penuh ………………………………………. Fejervarya concrivora
b) webbing tidak penuh ………………………………… Fejervarya limnocharis
IV. PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwa:
1. Phrynoidis asper merupakan kodok yang sangat buruk untuk dilihat, dengat warna dan totol yang tidak beraturan pada tubuhnya.
2. Duttaphrynus melanostictus adalah salah satu spesies dari family Phrynoidisnide dengan ciri khas memiliki alur supra orbital yang jelas, dan berwarna hitan. Hal ini sanagt membedakan dengan spesies lainnya.
3. Megophrys Nasuta merupakan katak bertanduk yang memiliki warna yang sangat mirip dengan serasah sebagai habitatnya. Hewan ini memiliki kelopak mata yang panjang terlihat seperti memiliki tanduk. Katak ini sangat indah dan bagus untuk dipelihara.
4. Leptobrachium abbotti adalah salah satu spesies megophrydae yang indah, dengan warna yang gelap, kaki yang panjang, dan sering terlihat. Kodok ini sangat lambat sehingga mudah untuk didapatkan.
5. Ichthyophis glutinosus adalah sampel awetan yang sangat sulit didapatkan. Hewan ini biasa didalam tanah dan keluar saat hujan. Sampel ini sangat sulit untuk ditemukan.
6. Fejervarya cancrivora adalah salah satu spesies dari family Ranidae yang menjadi indicator pencemaran lingkungan pada daerah sawah umumnya.
7. Fejervarya limnocharis adalah salah satu katak sawah yang menjadi indicator pencemaran lingkungan karena suka hidup pada lingkungan yang mengandung banyak pestisidan.
8. Limnonectes kuhlii adalah salah satu katak yang ditemukan pada daerah sungai. Katak ini memiliki membrane tympanum yang tidak jelas, sehingga dapat dibedakan secara langsung dengan spesies lainnya.
9. Limnonectes blythii adalah salah satu katak dengan ukuran yang sangat besar mencapai 2 meter. Sekarang katak ini telah terancam pada kepunahan
10. Rana erythraea adalah katak yang sering disebut katak hijau, karena memiliki warna hijau pada sebagian besar tubuhnya. Katak ini umumnya hidup ditepi kolam, dan sering diburu sebagai bahan pembuat obat obatan.
11. Rana nicobariensis adalah jenis katak yang memiliki ukuran yang kecil. Katak ini biasa hidup ditepi kolam. Katak ini memiliki suara yang sangat besar. Katak ini biasa menjadi mangsa bagi berbagai jenis reptile seperti ular.
12. Rana picturata adalah katak yang memiliki warna yang indah, dengan warna dasar hitam, dan bintik bintik merah pada bagian punggungnya. Katak ini memiliki suara yang indah.
13. Polypedates leucomystax adalah salah satu katak pohon yang ada disekitar UNAND. Katak ini memiliki disk untuk menempel pada ujung jarinya. Katak ini dapat ditemukan disekitar genangan air yang tenang.
4.2 Saran
Kepada praktikan yang akan melaksanakan praktikum ini disarankan agar berhati hati saat melakukan pengamatan dan pengukuran. Saat memegan Phrynoidis disarankan agar menggunakan sarung tangan, karena kodok ini memiliki racun yang keluar dari kelenjar paratoidnya. Saat mengamati megophrys disaran kan dengan hati hati karna jenis hewan ini lemah, dan rentan pada kematian.
DAFTAR PUSTAKA
Amri, Khairul, dan Khairuman. 2008. Identifikasi hewan. Jakarta: Agromedia Pustaka
Boulenger, G. A. 1882. Catalogue of the Batrachia Gradientia s. Caudata and Batrachia Apoda in the Collection of the British Museum. Second Edition. London: Taylor and Francis.
Chan-ard. 2003. Nicobar Cricket Frog. Thailand: Guide Amphibia
Delorme, M., A. Dubois, S. Grosjean, and A. Ohler . 2006. Une nouvelle ergotaxinomie des Megophryidae (Amphibia, Anura). Paris: Alytes.
Duellman, W. E. and L. Trueb. 1986. Biology of Amphibians. New York: McGraw – Hill Book Company.
Eprilurahman, 2007. Frogs and Toads of Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. International Seminar Advances in Biological Science. Fakultas Bilogi UGM
Frank and Ramus. 1995. Blyth's Wart Frog Compl. Guide Scient. Common Names Amph. Rept. World. New york
Frank and Ramus. 1995. Kuhl's Wart Frog Compl. Guide Scient. Common Names Amph. Rept. World. New york
Inger, RF dan Bacon, JP. 1968. Tahunan reproduksi dan ukuran kopling pada katak hutan hujan dari Sarawak. Copeia: Press corp.
Inger, R. F., and Greenberg, B. 1963. ''The annual reproductive pattern of the frog Rana erythraea in Sarawak.'' Physiological Zoology. Philiphine: Press corp
Inger, RF dan Stuebing, RB (2005). Sebuah Panduan Lapangan ke Katak Kalimantan, 2nd edition Publikasi Sejarah Alam (Kalimantan). Kota Kinabalu.
Inger, R. F., R. B. Stuebing, and F.-L. Tan . 1995. New species and new records of anurans from Borneo. Singapore: Raffles Bulletin of Zoology.
Inger, R. F., and Stuebing, R. B. (1997). A Field Guide to the Frogs of Borneo. Natural History Publications (Borneo) Limited, Kota Kinabalu.
Iskandar, D. T. and E. Colijn. 2000. Preliminary Checklist of Southeast Asian and New Guinean Herpetofauna: Amphibians. Treubia: Press
Iskandar, DT (1998) Para Amfibi Jawa dan Bali. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi-LIPI.
Jangkaru, Z. 2004. Memacu Pertumbuhan Gurame. Jakarta: Penebar Swadaya
Kelaart. 1853. Common tree Frog. Singapore: Faunae Zeylan
Khan, M.S. (1991). Morphoanatomical specialization of the buccopharyngeal region of the anuran larvae and its bearing on the mode of larval feeding. Pakistan: Unpublished Ph.D. dissertation, University of the Punjab, Lahore.
Lathrop, A. (2003). ''Asian horned frog, Megophrys nasuta.'' Grzimek's Animal Life Encyclopedia, Volume 6, Amphibians. 2nd edition. Michigan: M. Hutchins, W. E. Duellman, and N. Schlager, eds., Gale Group, Farmington Hills.
Maeda and Matsui. 1990. Frogs Toads Japan Indian Rice Frog. Japan
Nguyen, Ho, 2005, Javan Wart Frog Checklist Amphibia. Vietnam
Pough, F. H, et. al. 1998. Herpetology. New Jersey: Prentice-Hall,Inc.
Robert Inger, Djoko Iskandar, Peter Paul van Dijk, Norsham Yaakob 2004. Hylarana picturata. In: IUCN 2010
Van Kompen, P.N. 1923 The Amphibian of Indo-Australian Archipelago. Leiclen
Zug, George R. 1993. Herpetology : an Introductory Biology of Ampibians and Reptiles. London: Academic Press.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
gan jangan pendek pendek page nya
BalasHapus